
Oleh: dr. Mulyadi Subarjo, Sp.P *)
INDONESIA merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik yang tinggi. Ketika terjadi erupsi, material vulkanik dapat dilepaskan ke atmosfer dan tersebar mengikuti arah angin.
Selain menimbulkan hujan abu, kondisi ini dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan paparan partikel yang terhirup melalui saluran pernapasan.
Dari sudut pandang kesehatan paru, abu vulkanik perlu diperhatikan karena sebagian partikelnya berukuran sangat kecil sehingga dapat terhirup. Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap erupsi maupun setiap orang.
Besarnya risiko dipengaruhi oleh karakteristik abu, konsentrasi partikel di udara, lama dan frekuensi paparan, serta kondisi kesehatan orang yang terpapar.
Mengapa Abu Vulkanik Dapat Mencapai Paru?
Meskipun sama-sama disebut "abu", abu vulkanik berbeda dengan abu hasil pembakaran. Abu vulkanik terbentuk dari fragmentasi magma dan batuan selama erupsi dan dapat tersusun atas fragmen batuan, mineral, serta kaca vulkanik.
Dalam ilmu vulkanologi, material vulkanik berdiameter kurang dari 2 milimeter digolongkan sebagai abu. Namun, dari sisi kesehatan paru, partikel yang jauh lebih kecil justru lebih penting.
Partikel berukuran kurang dari 10 mikrometer dapat menembus lebih jauh ke sistem pernapasan. Sementara itu, fraksi respirabel, sekitar kurang dari 4 mikrometer, mempunyai peluang lebih besar mencapai bagian paru yang lebih dalam.
Partikel yang relatif besar cenderung tertahan di hidung dan saluran napas bagian atas. Partikel yang lebih kecil dapat mencapai trakea, bronkus, bronkiolus, hingga daerah alveolar, tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida berlangsung.
Batas ukuran tersebut bukan batas anatomis mutlak. Tempat partikel mengendap juga dipengaruhi bentuk dan densitas partikel serta pola pernapasan.



