PATI - Di tengah arus internet yang menyuguhkan informasi serba instan, eksistensi seni tradisional benar-benar seperti sedang diuji.
Selain berhadapan dengan seni modern yang menggunakan teknologi sebagai medianya.
Kemunculan seni dengan dengan label agamis juga telah menggerus pasarnya.
Itulah yang dialami Tiari, seniman kentrung asal Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Seniman sekaligus pimpinan Kentrung Gaya Baru itu merasa bahwa saat ini kentrung kian ditinggalkan karena masyarakat lebih memilih solawatan.
“Pernah dalam setahun kami tidak ada yang menanggap (pementasan) sama sekali,” kata Tiari sebelum pementasan kentrung di kampus STAI Syekh Jangkung, Sabtu (7/2).
Kentrung merupakan seni pertunjukan tutur tradisional Jawa.
Penyajiannya berupa cerita yang dinyanyikan atau dilagukan oleh seorang atau beberapa penutur dengan iringan alat musik sederhana, terutama rebana.
Kentrung sendiri memiliki fungsi sebagai hiburan, dakwah, dan pendidikan moral di masyarakat pedesaan.
Biasanya seni ini dipentaskan saat acara khitanan, tujuh bulanan (mitoni), dan sejenisnya.
Kesenian ini sempat populer di masyarakat ketika televisi dan media hiburan lainnya belum menjamur.
Menyadari bahwa jadi seniman kentrung tidak bisa menjadi sumber pendapatan utama, sejak dulu tidak pernah mengandalkan seni sebagai satu-satunya sumber ekonominya.
“Saya jualan sempolan di rumah,” katanya.
Tiari menekuni seni kentrung sudah sekitar 40 tahun. Sejak usia 15 tahun dia telah dikenalkan kentrung oleh Suto Jariman, bapaknya.
Sedangkan Suto Jariman mengenal seni kentrung dari Mitorejo, bapaknya.
Menurut Tiari, Suto Jariman meninggal dalam usia 95 tahun sedangkan Mitorejo meninggal di usia 100 tahun lebih.
Kekhasan dari grup pimpinan Tiari ini di antaranya adalah hiburan musik dangdut yang diputar melalui ponsel.
Kentrung Gaya Baru juga menggunakan media beberapa wayang.
Kemarin, Tiari dan timnya yang terdiri atas Wadak, Muklisin, Ali Topan diundang khusus ke kampus Syekh Jangkung dalam rangka mengisi rangkaian acara HUT ke-10 STAI Jangkung.
Peran Wadak dan Muklisin adalah sebagai niyaga, seangkan Ali Topan sebagai MC sekaligus wakil dalang.
Kelompok Kentrung Gaya Baru merupakan masih dalam ikatan keluarga. Wadak dan Mukhlisin adalah anak Tiari.
Dia mengkader kedua anaknya agar kentrung tidak hilang dari kebudayaan masyarakat.
Ali Topan juga masih terhitung keluarga karena masih keponakan Tiari. “Kami dulu pernah juara sekabupaten Pati,” kata Ali.
Ketua Panitia Satu Dekade STAI Syekh Jangkung Nurul Fatimah mengatakan pihaknya sengaja menghadirkan seniman kentrung di acara kampus tersebut.
Ini adalah salah satu bukti kepedulian perguruan tinggi pada persoalan seni tradisional.
“Sekaligus kami bermaksud memperkenalkan kentrung kepada generasi muda, karena itu kami mengundang siswa dari berbagai sekolah untuk menyaksikan penampilan Pak Tiari,” kata Nurul yang didampingi Isna Maylani, sekretaris panitia.
Pihak sekolah yang hadir seperti dari SMA 1 Kayen, SMA PGRI 2 Kayen, MTs Walisongo, SMP Negeri 1 Kayen, SMA Muhamadiyah Kayen, MTs Sirojul Huda, dan SMK An Najah. (*/him)
Editor : Abdul Rochim