Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Suluk Maleman, Ajak Umat Islam Bermuhasabah Di Bulan Muharram, Begini Keseruannya

Achmad Ulil Albab • Senin, 22 Juli 2024 | 16:39 WIB

SERU : Ngaji budaya Suluk Maleman membincangkan tentang bulan Muharram. SULUK MALEMAN UNTUK RADAR KUDUS
SERU : Ngaji budaya Suluk Maleman membincangkan tentang bulan Muharram. SULUK MALEMAN UNTUK RADAR KUDUS

KOTA, RADARPATI.ID - Bulan Muharram pada penanggalan Islam tak saja dipakai sebagai penanda pergantian tahun bagi orang muslim.

Lebih dari itu juga sekaligus menjadi momen penting untuk bermuhasabah atau instropeksi diri.

Ngaji Budaya Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (20/7) malam, kembali mengajak untuk bermusahabah di bulan Muharram kali ini.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman, menyebut bahwa bermuhasabah artinya menilai apa yang selama ini menggejala secara lahir untuk mengenali yang bathin yang menjadi sumbernya.

“Faktanya apa yang selama ini kita lakukan adalah akumulasi hasil pendidikan dan pembiasaan yang tertanam di otak sejak kecil, bahkan sejak bayi. Di satu sisi, pendidikan dan pembiasaan yang ditanam dari luar, dari lingkungan ini secara potensial mencampur-baurkan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang haq dengan yang bathil dan seterusnya,” jelas Anis.

“Sementara di sisi lain, sebagian besar kebiasaan tersebut tak bisa kita kenali akar nilai-nilai yang melahirkannya. Kita melakukannya setiap saat secara hampir otomatis. Karena itu kita butuh ruang untuk merenung dan menilai ulang kenapa kita melakukan ini dan bukan itu, memilih begini dan bukan begitu,” lanjutnya.

Menurut Anis, dari sini kita bisa menata ulang kebiasaan-kebisaan kita; menyingkirkan yang buruk, menguatkan dan menambah yang baik.

Lebih lanjut Anis menegaskan bahwa untuk lebih mengenali yang bathin, kita bisa menggunakan reaksi-reaksi spontan yang lahir saat menghadapi situasi dadakan atau darurat sebagai alat pengukurnya; karena reaksi tersebut menggambarkan kondisi bathin kita secara lebih tepat.

Yang penting untuk dicatat, demikian lanjut Anis, titik pijak dalam muhasabah ini adalah dengan memosisikan diri pada posisi paling rendah, paling hina, paling bodoh dan seterusnya. Atau, seperti pernah diucapkan oleh Sayyidina Ali, tanda awal awal keimanan adalah merasa bahwa dirinya yang paling buruk.

Dengan memilih posisi ini secara otomatis akan selalu terbuka ruang untuk memperbaiki diri secara terus menerus.

“Ini adalah proses muhasabah yang harus selalu kita lakukan, baik secara personal maupun sosial kebangsaan. Bila kita bisa istiqomah menjalankannya, insya Allah kita bisa menemukan kualitas terbaik kita secara personal mau pun secara sosial,” tambah Anis. (aua)

Editor : Abdul Rochim
#muhasabah #Ngaji #pati #tahun baru islam #Merenung #bulan Muharam #muharram #Instrospeksi #suluk maleman