JAKARTA – Duel Indonesia kontra Jepang pada semifinal AFC Futsal Asian Cup 2026 langsung berlangsung dalam tensi tinggi.
Tampil di kandang sendiri, Timnas Futsal Indonesia memilih pendekatan agresif dan sukses membuat Jepang kesulitan menemukan ritme permainan.
Empat puluh menit pertama berubah menjadi ajang adu mental dan keberanian. Hingga turun minum, Garuda Futsal memimpin 1-0 berkat gol krusial yang lahir di tengah tekanan intens.
Garuda Mengambil Kendali Sejak Awal
Indonesia membuka pertandingan dengan pressing tinggi. Distribusi bola Jepang yang biasanya rapi diputus sejak area pertahanan mereka sendiri.
Peluang awal hadir melalui situasi bola mati. Israr Megantara mencoba mengancam lewat tendangan kaki kiri, meski belum tepat sasaran. Tak lama kemudian, Firman Adriansyah melepaskan tembakan jarak jauh yang kembali menegaskan niat Indonesia untuk bermain terbuka.
Pendekatan ini membuat Jepang terkejut. Indonesia tampil percaya diri, jauh dari stigma bermain defensif saat menghadapi tim besar.
Jepang Mulai Bangkit, Pertahanan Indonesia Diuji
Tekanan Indonesia memaksa Jepang menaikkan tempo. Rotasi cepat mulai diterapkan untuk membuka celah.
Shoto Yamanaka hampir memecah kebuntuan pada menit ketiga, andai tembakan kerasnya tidak melenceng tipis dari gawang Ahmad Habiebie.
Situasi sempat genting ketika Brian Ick kehilangan keseimbangan dan Jepang melancarkan serangan balik cepat. Namun reaksi cepat lini belakang dan ketenangan Habiebie mampu meredam ancaman tersebut.
Di sisi lain, Indonesia tetap berani menyerang. Yogi Saputra nyaris membawa Garuda unggul, tetapi refleks kiper Hiroshi Tabuchi masih menggagalkan peluang.
Gol Kontroversial yang Mengubah Arah Laga
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-12. Tekanan bertubi-tubi Indonesia membuat Jepang gagal membersihkan bola dengan sempurna.
Di tengah kemelut, Samuel Eko muncul dan melepaskan sepakan kaki kiri dari luar circle. Bola meluncur tajam ke gawang Jepang.
Kubu Samurai Biru langsung bereaksi dengan protes, meminta peninjauan karena menganggap terjadi pelanggaran terhadap kiper. Wasit Fahad Badir menghentikan permainan sejenak sebelum mengambil keputusan.
Gol dinyatakan sah.
Indonesia Arena pun bergemuruh. Keunggulan 1-0 bukan hanya mengubah papan skor, tetapi juga menggeser tekanan sepenuhnya ke pihak Jepang.
Jepang Menekan, Habiebie Jadi Penyelamat
Dalam posisi tertinggal, Jepang bermain lebih nekat. Serangan demi serangan dilancarkan, termasuk memanfaatkan tembakan jarak jauh.
Kapten Jepang, Kazuya Shimizu, mencoba peruntungan lewat sepakan keras. Tabuchi bahkan beberapa kali naik jauh untuk membantu serangan, mencerminkan urgensi Jepang mengejar ketertinggalan.
Tekanan terberat datang dari Tomoki Yoshikawa. Sepakan kerasnya dari dalam area penalti berhasil dimentahkan Ahmad Habiebie dengan refleks luar biasa. Protes Yoshikawa justru berujung kartu kuning, menambah panas suasana.
Indonesia Bertahan Sambil Mengancam
Meski berada di bawah tekanan, Indonesia tetap berusaha keluar menyerang. Syauqi Saud mendapatkan peluang, tetapi tembakannya masih bisa diamankan Tabuchi.
Brian Ick dan kapten Mochammad Iqbal juga mencoba dari luar area, memaksa Jepang tetap waspada.
Sempat ada kekhawatiran saat Brian Ick terjatuh memegang betisnya, namun ia kembali berdiri dan melanjutkan pertandingan setelah mendapat perawatan singkat.
Tiang Gawang dan Fokus Hingga Jeda
Keberuntungan sempat menyelamatkan Indonesia ketika sepakan keras Harada menghantam tiang gawang kiri Habiebie.
Namun hingga peluit jeda dibunyikan, Indonesia mampu menjaga konsentrasi, menutup ruang, dan mempertahankan keunggulan.
Babak Pertama, Pernyataan Tegas Garuda
Skor 1-0 bertahan hingga turun minum. Gol Samuel Eko dan penampilan solid Ahmad Habiebie menjadi fondasi keunggulan Garuda Futsal.
Lebih dari sekadar angka, babak pertama ini menjadi pernyataan bahwa Indonesia tidak lagi bermain dengan rasa rendah diri.
Garuda Futsal bukan sedang menghindari sejarah—mereka sedang menghadapinya secara langsung.
Editor : Abdul Rochim