Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Warga Desa Piji Kudus Kirab Pager Mangkok, Ini Nilai Ajaran Luhur di Dalamnya

Galih Erlambang Wiradinata • Sabtu, 7 Desember 2024 | 01:58 WIB

 

KIRAB BUDAYA: Warga Piji Wetan mengikuti kegiatan Kirab Pager Mangkok di desa setempat, pada Jumat (6/12). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
KIRAB BUDAYA: Warga Piji Wetan mengikuti kegiatan Kirab Pager Mangkok di desa setempat, pada Jumat (6/12). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS, RadarPati.ID – Warga Dukuh Piji Wetan, Kecamatan Dawe, Kudus menggelar Kirab Budaya Pager Mangkok.

Kirab ini untuk mengajarkan nilai-nilai falsafah dari Sunan Muria, seperti bersedekah.

Kirab ini menjadi pembuka Festival Pager Mangkok ke empat Komunitas Kampung Budaya Piji Wetan Kudus pada Jumat (6/12).

Satu gunungan hasil bumi diarak warga setempat pada pukul 14.00 WIB, bermula dari Panggung Ngepringan menuju Punden Depok.

Kegiatan tersebut diikuti oleh rombongan ibu-ibu yang membawa nasi tomplingan, barisan anak-anak, tokoh agama dan warga setempat.

Setelah sampai di Punden Depok, rombongan tersebut memulai sebuah ritual Pager Mangkok sebagai simbol ajaran bersedekah.

Setelah ritual selesai, warga dengan segera mengerumuni gunungan hasil bumi dan saling berebut.

Sekitar 1000 nasi tomplingan yang dibungkus daun pisang juga dibagikan ke peserta kirab.

Koordinator kirab, Ulul Azmi mengungkapkan Kirab Pager Mangkok ini sudah digelar sebanyak empat kali.

Kirab ini menjadi pembuka festival pager mangkok untuk mengangkat nilai-nilai falsafah dari Sunan Muria, Tapangeli dan Pager Mangkok.

“Uniknya, kirab pager mangkok selalu disertai datangnya hujan sebelum prosesi acara. Ini menunjukkan Festival Pager Mangkok menjadi berkah bagi warga sekitar," ujarnya.

Azmi menjelaskan, pager mangkok diambil dari ajaran Sunan Muria yang berbunyi pagerono omahmu nganggo mangkok, pager mangkok luwih becik tinimbang pager tembok.

(Pagarilah rumahmu dengan pagar mangkuk, karena pagar mangkuk (bersedekah) lebih baik daripada pagar tembok).

Selain itu, ajaran falsafah Tapangeli, yang berarti mengarus tetapi tidak terbawa arus, juga disiarkan kepada masyarakat.

Dalam ajaran tersebut memiliki maksud, masyarakat diperbolehkan mengikuti perkembangan zaman asalkan tidak terbawa arus zaman yang negatif dan memegang prinsip hidup.

Ajaran-ajaran tersebut ditujukan kepada seluruh masyarakat terutama generasi muda.

Festival Pager Mangkok kali ini mengusung tema Labora(s)tories. Tema tersebut diartikan, Kampung Budaya Piji Wetan ingin menunjukkan bahwa budaya dan seni dapat menjadi perayaan oleh siapa saja, terutama genersi muda.

Pihaknya berharap, Festival Pager Mangkok ke empat ini dapat menjadi pemantik agar generasi muda tertarik untuk merawat nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan Sunan Muria.

Kegiatan semacam ini diharap dapat terus mencetak generasi - generasi baru yang cinta dan peduli dengan kesenian dan kebudayaan.

Sehingga kegiatan ini dapat tumbuh dan dilestarikan setiap tahunnya. (dik/him)

Editor : Abdul Rochim
#Pager Mangkok #kudus #sunan muria #kirab budaya