JEPARA – Upaya pengendalian cuaca di Jawa Tengah belum dihentikan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang sebelumnya digelar pada pertengahan Januari, kini diputuskan berlanjut hingga penghujung bulan.
Keputusan tersebut diambil menyusul potensi cuaca ekstrem yang masih membayangi sejumlah wilayah rawan bencana.
Program yang semula difokuskan di kawasan Muria Raya itu kini diperluas cakupannya.
Sejumlah daerah Pantura dan Jawa Tengah bagian barat seperti Pemalang, Pekalongan, Tegal, hingga Brebes masuk dalam prioritas penanganan.
Koordinator Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Giyarto, mengungkapkan bahwa hasil evaluasi lintas lembaga menunjukkan OMC terbukti mampu menekan intensitas hujan.
Namun, derasnya suplai awan hujan pada puncak musim penghujan membuat intervensi perlu diperpanjang.
“Efektivitasnya terlihat, tetapi saat ini kita berada pada fase puncak musim hujan. Pertumbuhan awan konvektif masih sangat aktif, sehingga intervensi teknis perlu terus dilakukan,” jelasnya.
OMC yang awalnya dijadwalkan hingga Kamis (29/1), kini dibuka peluang untuk diperpanjang hingga akhir Januari.
Analisis atmosfer terbaru menunjukkan aktivitas awan hujan masih dominan, terutama di wilayah Pantura dan Jateng barat.
Untuk meningkatkan efektivitas, jumlah armada udara juga ditambah.
Dua pesawat, PK-SNM dan PK-SNP, kini disiagakan dengan frekuensi penerbangan mencapai lima sortie per hari, menyesuaikan kondisi awan target.
Namun, operasional tidak selalu berjalan mulus. Pada hari tertentu, penerbangan terpaksa dibatalkan karena kondisi cuaca yang membahayakan.
Pesawat harus mencapai ketinggian ideal antara 10.000 hingga 12.000 kaki untuk menebar bahan semai secara efektif.
“Keselamatan kru tetap menjadi prioritas utama,” tegas Giyarto.
Dalam pelaksanaan OMC, bahan semai tidak hanya mengandalkan garam (Natrium Klorida), tetapi juga dikombinasikan dengan Kalsium Oksida.
Setiap penerbangan rata-rata membawa sekitar satu ton material.
NaCl berfungsi mempercepat penggabungan partikel air dalam awan sehingga hujan bisa dipicu lebih dini.
Sementara CaO digunakan untuk mempercepat peluruhan awan dengan kandungan uap air tinggi agar tidak berkembang menjadi hujan ekstrem saat memasuki wilayah rawan.
“Tujuannya bukan menghilangkan hujan, melainkan mengatur kapan dan di mana hujan turun,” jelasnya. Hujan diarahkan jatuh di wilayah minim risiko seperti perairan, sebelum awan bergerak ke daratan padat penduduk.
BMKG mencatat, pergerakan awan saat ini didominasi aliran dari barat dan barat laut menuju timur-tenggara dengan kecepatan 10–15 knot.
Pola tersebut membuat wilayah Jepara, Kudus, Pati, hingga Pemalang menjadi area yang terus dipantau.
Seiring perkembangan terbaru, fokus penyemaian kini diarahkan ke kawasan Pantura barat dan Jawa Tengah bagian barat.
Penyemaian dilakukan di atas perairan sekitar Pemalang untuk menahan pergerakan awan menuju wilayah tengah dan timur Jateng.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas C. Penanggungan, menegaskan bahwa pelaksanaan modifikasi cuaca bersifat dinamis dan berbasis analisis harian BMKG.
“Tidak ada pola seragam. Setiap hari kami memantau pertumbuhan awan, lalu menentukan kebutuhan pesawat dan intensitas penyemaian. Semua berbasis kondisi lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah wilayah seperti Purbalingga, Pemalang, dan Tegal kini relatif lebih terkendali.
Meski demikian, kawasan Muria masih diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir, walau intensitasnya cenderung menurun.
Kondisi ini menandakan OMC berperan menekan risiko bencana, meski belum sepenuhnya menghentikan hujan karena faktor musim.
Selama puncak musim hujan belum terlewati, modifikasi cuaca tetap menjadi instrumen penting pengendalian risiko.
“Ini bukan solusi tunggal, tapi alat untuk mengurangi dampak. Masyarakat tetap kami imbau waspada terhadap potensi cuaca ekstrem,” pungkasnya. (fik/lin)
Editor : Abdul Rochim