JEPARA — Bencana longsor terjadi di Desa Tempur sejak Jumat (9/1) lalu. Tidak hanya satu titik.
Tapi mengepung. Terdapat 18-24 titik yang diinventarisasi. Belum lagi longsoran kecil di lereng-lereng bukit yang tak terhitung.
Ini bukanlah kali pertama Desa Tempur dilanda longsor ataupun banjir.
Setidaknya dua puluh tahun yang lalu, pada 2006 juga pernah terjadi.
Bencana ini oleh sebagian orang tidak hanya mampir. Bukanlah sebuah hal yang kebetulan belaka.
Melainkan alarm. Upaya alam menyeimbangkan diri, mencari letak dan posisinya yang paling tepat.
Warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, yang tak berkenan dikorankan namanya menyebutkan bahwa longsor kali ini bukanlah hal mistis.
Tapi logis, dan terdapat sisi sebab akibatnya.
Menurutnya, kebun kopi terus meluas. Tidak hanya dalam satu dua tahun yang lalu. Melainkan berdekade-dekade sebelumnya.
Ia mengungkapkan bahwa praktik yang acapkali digunakan oleh petani kopi ialah dengan melakukan peneresan.
Metode ini dikenal sebagai upaya mengeringkan pohon sebelum ditebang. Caranya seperti memotong kambium pohon secara melingkar.
Tujuannya pohon mengering secara bertahap. Mengurangi kadar air dan karbohidrat.
Serta mencegah kayu pecah saat tumbang, sehingga kayu lebih awet dan kuat.
"Salah satu penyebab banjir dan longsor saat ini adalah terlalu masif pembukaan lahan. Hutan menjadi perkebunan kopi, efek dari harga kopi yang mahal," ungkapnya.
Dirinya juga mengamati, tak sedikit pohon besar di perkebunan kopi yang diteres.
"Diteres dan diobat biar mati. Karena warga tidak berani menebang langsung, takut diaporkan," ucapnya.
Tak hanya itu, ia juga menyebut potensi bencana pada beberapa tahun yang akan datang besar. Apabila hal-hal tersebut masih terus dilakukan.
"Kalau itu dibiarkan, hutan lindung di wilayah Tempur bakal rusak semua, tidak ada pohon penyimpan air," ringkasnya.
Benar. Berdasarkan pengamatan Radar Kudus melalui citra satelit pada Jumat (16/1), begitupun melalui Google Earth.
Area perbukitan yang semestinya menjadi catchment area atau daerah tangkapan air tampak terbuka.
Lokasinya memang tidak begitu luas. Tapi memiliki jarak yang rapi. Serta merata. Hampir di area perbukitan di sebelah selatan maupun timur.
Termasuk di area Kawasan Candi Bubrah maupun Candi Angin.
Dari pantauan tersebut dapat diamati cukup jelas. Paling menonjol ialah dari sisi warna daun pohon.
Kini banyak yang berwarna hijau muda, berelevasi rendah. Tampak seperti berongga jika diamati lewat citra satelit.
Bahkan terdapat juga tak sedikit titik yang merupakan bukaan lahan baru. Warnanya coklat.
Hal ini diperkuat dengan pengamatan Radar Kudus di lokasi kejadian. Khususnya di area Kawasan Candi jelang akhir tahun 2025 lalu.
Di sekitar jalur pendakian pun pembukaan lahan terjadi. Beberapa titik tampak mengering bekas dibakar.
Dugaan, bahwa sebab bencana longsor di daerah yang termasuk Lereng Muria ini pun menguat.
Perluasan kebun kopi menjadi salah satu faktor. Ditambah dengan intensitas hujan yang cukup tinggi.
Radar Kudus juga mengamati, di beberapa titik longsor yang terjadi sejak Jumat (9/1).
Setelah dirunut, sekalipun dari sisi bawah pohon tampak rimbun. Namun di atasnya mulai terbuka. Ya, tak sedikit tanaman kopi yang telah ditanam.
Perlu pekerjaan rumah tersendiri. Agar kebutuhan ekonomi juga berbanding lurus terhadap upaya pelestarian dan konservasi.
Warga Desa Tempur Kecamatan Keling kini berusaha bangkit dari bencana ini.
Memulihkan diri dari keterisolasian. Namun ada hal-hal pasca bencana yang perlu dibenahi.
"Banjir dan longsor ini menjadi peringatan keras kepada kita semua. Agar jangan serakah merusak hutan demi kepentingan pribadi," sebut salah satu sumber Radar Kudus.
Ia juga menyayangkan, tak sedikit masyarakat yang malah lebih suka mengaitkan kejadian bencana dengan hal-hal yang berbau klenik.
"Semuanya dapat dilogika. Kalau daerah atas habis, dampaknya daerah bawah. Semoga masyarakat atau pemerintah terkait dapat lebih sadar," pungkasnya.(fik/him)
Editor : Abdul Rochim