Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Pemuda Jepara Merana di Kamboja, Berhasil Melarikan Diri dengan Survive 15 Hari di Hutan

Abdul Rochim • Rabu, 10 September 2025 | 02:07 WIB

 

Samiadji, Kepala Diskop UKM Nakertrans Jepara
Samiadji, Kepala Diskop UKM Nakertrans Jepara

JEPARA – Masyarakat Kabupaten Jepara dihebohkan dengan informasi adanya pemuda Jepara yang menjadi korban human trafficking (perdagangan manusia) di Kamboja.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskop UKM Nakertrans) Kabupaten Jepara Samiadji mengonfirmasi terkait dengan kabar tersebut.

Pihaknya menyebutkan, terdapat setidaknya delapan orang yang menjadi korban dari kerja paksa di Negeri Angkor Wat tersebut.

Salah satunya warga Kabupaten Jepara tepatnya warga Dukuh Kauman Klero, Desa Klepu, Kecamatan Keling, berinisial MF.

Pria 25 tahun tersebut, menurut Samiadji berhasil melarikan diri bersama tujuh orang temannya yang berasal dari provinsi lain, seperti Jawa Barat hingga NTB.

”Peristiwa ini dialami tenaga kerja Indonesia (TKI) MF bersama tujuh temannya yang bekerja di Kamboja.

Mereka melalui jalur unprosedural atau ilegal," ungkapnya saat ditemui wartawan kemarin.

Disebutkan, sebelumnya MF telah bekerja di salah satu hotel di Yogyakarta. Ia pun telah menekuni bidang tersebut, dalam kurun waktu tiga tahun.

Kemudian MF ditawari kerja oleh rekanan dengan gaji yang terbilang fantastis.

Tawaran itu pun membuatnya bersama teman-temannya tertarik.

Berangkatlah MF ke Kamboja dengan biaya hasil menjual motor.

Sementara teman-temannya yang lain, juga mengusahakan biaya keberangkatan dengan tabungan masing-masing.

”Informasi dari keluarga, MF bekerja di pabrik pembuatan fiber. Sudah bekerja sekitar tiga bulan (masa training)," ucapnya.

Akan tetapi, kemudian MF beserta tujuh temannya mengendus hal yang tidak beres.

Setelah tiga bulan per Jumat (5/9) lalu mereka bekerja, tiba-tiba MF menelepon pihak keluarga.

Selain tidak kunjung mendapatkan gaji, MF juga mengaku disekap. Dengan ditempatkan di ruangan sempit yang hanya berisikan satu orang. Termasuk mendapat kekerasan fisik.

Tak tahan dengan kekerasan yang juga dialami, delapan orang tersebut lantas memutuskan untuk melarikan diri.

Tak tanggung-tanggung, mereka harus keluar masuk hutan dan harus survive. Terhitung selama 15 hari.

Hingga kemudian bertemu dengan masyarakat setempat suku pedalaman dan bertemu dengan pihak kepolisian setempat.

”Kami juga belum tahu akomodasi secara jelas hingga meraka tiba di Kamboja. Yang jelas unprosedural atau ilegal.

Selama di sana (Kamboja, Red) mereka merasakan ada intimidasi dari pihak-pihak yang kami juga belum tahu itu siapa," sebutnya.

Di mess atau kamp penampungan, yang bersangkutan juga mendapati intimidasi dan kekerasan. Seperti ditendang dan sejenisnya.

”Setelah 15 hari dalam pelarian kemudian ditemukan oleh suku pedalaman di Kamboja. Di situlah mereka diberi makan seadanya, dari alam. Belum tahu persis distrik atau wilayah mana tempat pelariannya," ujarnya.

Samiadji mengaku, baru mendapatkan informasi terkait dengan hal tersebut, pada Sabtu (6/9) lalu.

Kemudian juga dihubungkan dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) serta Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Semarang.

”Ketika dalam pelarian juga terkendala sinyal. Kadang ada kadang tidak.

Hingga kemudian ada dari salah satu keluarga (dari delapan orang) yang menjemput ke sana. Akhirnya bisa pulang. Dari Bandara Phnom Penh ke Bandara Yogyakarta," jelasnya.

Saat ini, yang bersangkutan telah sampai di Kabupaten Jepara lagi. Setelah setibanya di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta pada Senin (8/9) lalu.

Setelah itu, korban naik travel jurusan Yogyakarta-Kelet, Keling dan korban sampai di rumah.

”Pada Senin (8/9) kami juga mengantarkan dari puskesmas setempat ke RSUD Kartini. Kami dampingi hingga Selasa (9/9) sekitar pukul 01.30. Kami pastikan agar segera ditangani dengan baik," ucapnya.

Disebutkan lebih lanjut, terdapat luka memar di bagian antara ulu hati dan perut. Termasuk di area kaki.

”Memar antara dada dan perut. Termasuk kaki. Mungkin karena lompat dan naik turun bukit.

Akan tetapi setelah saya pastikan tidak ada luka terbuka di area organ vitalnya. Selain itu, juga sudah dilakukan rekam medik, apa saja yang dirasakan oleh yang bersangkutan," terangnya.

Samiadji menyampaikan, saat ini korban masih dalam proses pemulihan dan belum dapat melakukan klarifikasi secara runut dan mendetail.

”Ditinjau dari kondisi tubuhnya pun jadi tampak kecil (kurus). Menunggu korban pulih dulu, baru nanti kami klarifikasi," tandasnya. (fik/lin)

Editor : Abdul Rochim
#jepara #kamboja #human trafficking