
RADAR PATI, MAGELANG – Kabupaten Magelang perlu mewaspadai potensi gempa bumi yang bersumber dari sesar aktif di daratan maupun zona subduksi di selatan Pulau Jawa.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, Sesar Merapi-Merbabu berpotensi memicu gempa bermagnitudo maksimum 6,5, sedangkan Sesar Opak mencapai 6,9.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa ancaman gempa tidak hanya berlaku bagi wilayah pesisir.
Baca Juga: 67 Kios dan 228 Los Pasar Gotong Royong Magelang Tak Ditempati, Ternyata Bukan Sepi Dagangan
Daerah yang berada jauh dari laut, termasuk Magelang, tetap berisiko merasakan guncangan yang dapat merusak bangunan.
Peringatan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) di Aula Balai Desa Tampingan, Kecamatan Tegalrejo, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sumber gempa, risiko guncangan, serta langkah penyelamatan ketika bencana terjadi.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu menjelaskan, masyarakat di dataran tinggi terkadang menganggap ancaman gempa relatif jauh karena tidak tinggal di kawasan pesisir.
Padahal, gempa yang bersumber dari daratan dapat menimbulkan kerusakan signifikan.
Terutama jika kekuatannya besar, kedalamannya dangkal, dan bangunan tidak memenuhi standar konstruksi tahan gempa.
"Kalau di darat, sumbernya ada di bawah kita. Kemungkinan kerusakan bangunan kita jauh lebih besar, apalagi dengan kekuatan yang besar dan kedalaman yang dangkal," ujarnya.
Tiga sumber gempa perlu diwaspadai
BMKG mengidentifikasi tiga sumber gempa yang perlu menjadi perhatian di wilayah Magelang, yakni Sesar Merapi-Merbabu, Sesar Opak, serta zona subduksi di selatan Jawa.
Sesar Merapi-Merbabu memiliki potensi magnitudo maksimum 6,5, sementara Sesar Opak berpotensi mencapai magnitudo 6,9.
Meski Kabupaten Magelang tidak berada tepat di atas kedua sesar tersebut, guncangan dari aktivitas gempa di wilayah itu tetap dapat dirasakan hingga Magelang.
Selain sesar di daratan, zona subduksi di selatan Pulau Jawa juga perlu diantisipasi karena berpotensi memicu gempa bermagnitudo besar. Gempa bawah laut dengan karakteristik tertentu bahkan dapat memicu tsunami.
"Yang harus dilakukan adalah persiapan dan penguatan mitigasi," tegasnya.
Edukasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan
Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Banjarnegara Hery Susanto Wibowo mengatakan, Sekolah Lapang Gempa Bumi merupakan bagian dari upaya BMKG meningkatkan kemampuan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menghadapi bencana.
Melalui edukasi, pelatihan, dan penguatan koordinasi lintas sektor, masyarakat diharapkan mampu memahami risiko serta mengambil tindakan yang tepat ketika gempa terjadi.
Koordinasi juga diperlukan agar penyampaian informasi, komunikasi darurat, dan proses penyelamatan dapat berlangsung efektif.
Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang David Rudiyanto menambahkan, peningkatan kapasitas masyarakat harus dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, edukasi kebencanaan penting untuk membangun kewaspadaan tanpa menimbulkan ketakutan berlebihan.
"Tujuan kita bukan untuk menimbulkan rasa takut, melainkan membangun pengetahuan, kewaspadaan, dan kemampuan bertindak secara cepat dan tepat ketika terjadi gempa bumi," katanya.
Masyarakat diharapkan semakin memahami langkah perlindungan diri, mengenali kondisi bangunan, serta mengetahui prosedur evakuasi agar risiko korban dan kerusakan akibat gempa dapat ditekan. (*)




