Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Kelenteng Hok An Bio di Grobogan Sambut Tahun Shio Kuda Api

Abdul Rochim • Kamis, 12 Februari 2026 | 19:33 WIB

 

DIBERSIHKAN: Pengurus Yayasan Tri Darma hingga warga membersihkan patung dewa-dewi di Kelenteng Hok An Bio Purwodadi. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR PATI)
DIBERSIHKAN: Pengurus Yayasan Tri Darma hingga warga membersihkan patung dewa-dewi di Kelenteng Hok An Bio Purwodadi. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR PATI)

GROBOGAN – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, Kelenteng Hok An Bio Dewa Bumi Purwodadi kembali menggelar ritual sakral pembersihan patung dewa-dewi (rupang).

Satu per satu patung suci dikeluarkan dari altar, disucikan, dan dibersihkan dalam sebuah prosesi yang penuh makna spiritual sebagai penanda pergantian tahun penanggalan Kongzili.

Ritual ini bukan sekadar bersih-bersih fisik. Dalam tradisi Konghucu dan Tri Dharma, pembersihan rupang menjadi kewajiban sakral yang hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

Yakni saat para dewa dipercaya “naik ke langit” untuk memberikan laporan kepada Tian (Tuhan) atas peristiwa yang terjadi selama setahun.

Ketua Pengurus Yayasan Tri Darma Purwodadi, Budi Wiguna, menjelaskan bahwa prosesi ini memiliki waktu dan tahapan khusus.

”Pembersihan patung dewa dilakukan di waktu tertentu, seperti saat ini. Ketika semua dewa naik ke langit untuk memberikan laporan. Hari sebelumnya, Kongco terlebih dahulu naik ke altar,” ujarnya.

Prosesi dimulai sejak pukul 08.30 hingga 14.00 WIB, bertepatan dengan momentum naiknya Dewa Ciauw Kun Kong (Dewa Dapur) ke langit.

Dalam kepercayaan umat, Dewa Dapur bertugas menyampaikan laporan tentang kehidupan penghuni rumah selama satu tahun terakhir.

Ritual ini diyakini sebagai pengantar para dewa-dewi menuju kayangan.

Ruh mereka dipercaya telah meninggalkan rupang untuk sementara waktu, sehingga patung-patung suci tersebut dianggap “kosong” dan boleh dibersihkan. Ruh para dewa diyakini akan kembali sepekan kemudian.

Seluruh area kelenteng ikut disucikan. Patung-patung dikeluarkan ke teras vihara, rak altar dicuci, lantai dan halaman disapu, hingga ruang sembahyang dibersihkan secara menyeluruh.

”Kami mengeluarkan seluruh benda dan patung ke teras vihara. Ada sekitar 39 patung dewa-dewi, atau 15 tokoh suci, termasuk pengawal dan hewan kesayangan yang dibersihkan,” jelas Budi.

Tradisi unik juga menyertai ritual ini. Pada malam sebelum Dewa Dapur naik ke langit, sebagian umat mengoleskan madu di bibir rupang Dewa Dapur, sebagai simbol harapan agar laporan yang disampaikan kepada Tuhan berisi hal-hal yang manis dan baik tentang kehidupan manusia.

Tak hanya itu, sisa dupa (hio) bekas sembahyang pun diperlakukan secara khusus. Abu dupa tidak boleh dibuang sembarangan, melainkan disaring, dibersihkan, dan disimpan kembali.

”Kami percaya sisa hio ini sakral, karena membawa doa dan permohonan jemaat. Abu ini menyimpan energi doa positif, sehingga selalu kami simpan,” terangnya.

Menjelang Imlek, aktivitas persembahan juga semakin intens.

Jika biasanya pergantian persembahan dilakukan sebulan dua kali, maka menjelang Imlek hampir setiap hari persembahan diganti sebagai bentuk penghormatan kepada para dewa-dewi.

Menghadapi Tahun Shio Kuda Api, pihak klenteng menaruh harapan besar akan energi baru yang lebih kuat dan penuh semangat.

”Kami berharap shio kuda api ini membawa kekuatan untuk berlari lebih cepat.

Rezeki lebih mudah datang, berkah, kesejahteraan, serta semangat baru, lebih semangat dalam hidup dan dalam berkarya,” pungkasnya. (int/him)

Editor : Abdul Rochim
#tahun shio kuda api #grobogan #imlek #Dewa Ciauw Kun Kong