BLORA – Kerusakan jalan di kawasan perkotaan Blora semakin sering terjadi.
Kondisi ini dinilai tak lepas dari tingginya intensitas truk besar, termasuk kendaraan sumbu tiga, yang melintas di ruas-ruas jalan kota.
Pemerintah daerah pun dinilai membutuhkan jalan lingkar untuk mengalihkan arus kendaraan berat tersebut.
Sejumlah titik yang mengalami kerusakan antara lain Jalan Gunandar, Reksodiputro, Maluku, Halmahera hingga kawasan perempatan Biandono.
Pada ruas-ruas tersebut, aspal banyak mengelupas dan muncul lubang di berbagai titik.
Pelaksana Pemeliharaan Rutin Jalan dan Jembatan DPUPR Blora, Slamet Setyo Hartono, menjelaskan bahwa sebagian besar jalan di kawasan itu berstatus jalan kabupaten dengan klasifikasi kelas III.
Sementara kendaraan yang melintas kerap merupakan truk bertonase besar hingga sumbu tiga.
Menurutnya, kendaraan jenis tersebut seharusnya melintas di jalan dengan kelas lebih tinggi, seperti jalan kelas I.
Beban berlebih yang terus-menerus diterima badan jalan membuat konstruksi cepat mengalami kerusakan.
“Struktur jalan kita tidak dirancang untuk menahan beban sebesar itu, sehingga wajar jika cepat rusak,” ujarnya.
Selain faktor tonase kendaraan, persoalan drainase juga menjadi penyebab lain.
Sistem aliran air yang kurang optimal membuat air tidak mengalir dengan baik ke saluran maupun trotoar, sehingga mempercepat kerusakan lapisan aspal.
DPUPR, lanjutnya, telah melakukan sejumlah upaya, termasuk membuka saluran yang tersumbat agar air dapat mengalir dengan lancar dan tidak menggenangi badan jalan.
Melihat kondisi tersebut, kebutuhan akan jalan lingkar dinilai semakin mendesak.
Dengan adanya jalur alternatif khusus kendaraan berat.
Diharapkan ruas-ruas jalan dalam kota tidak lagi menanggung beban berlebih yang mempercepat kerusakan. (tos/him)
Editor : Abdul Rochim