
BLORA — Di tengah lesunya ekonomi saat pandemi 2020, Dian Agus Yulianto justru menemukan peluang usaha dari bahan sederhana, yakni bambu.
Berbekal kreativitas, ia mengembangkan kerajinan anyaman yang kini diminati pasar luas.
Usaha tersebut berpusat di rumahnya di Desa Kedungsatriyan, Kecamatan Ngawen, Blora.
Di sana, belasan ibu-ibu tampak rutin menganyam bilah bambu menjadi berbagai produk, seperti tas parcel yang ramah lingkungan.
Para perajin tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Barokah Bambu yang dipimpin Dian.
Menjelang Lebaran, aktivitas produksi semakin padat karena tingginya permintaan.
Bahkan, tahun ini pesanan mencapai lebih dari 10 ribu unit, sehingga pihaknya terpaksa menutup pemesanan lebih awal.
Dian menjelaskan, usaha ini awalnya hanya menghasilkan sekitar 4.000 hingga 5.000 produk. Namun kini mengalami peningkatan signifikan seiring meluasnya pasar.
Produk anyaman bambu tersebut tidak hanya diminati warga Blora, tetapi juga dipesan dari berbagai daerah seperti Sukoharjo, Jakarta, Jambi, Nusa Tenggara Timur, Sumatera, hingga Kudus dan Pati.
Pemasaran dilakukan melalui media sosial serta dukungan publikasi dari berbagai pihak. Harga produk pun cukup terjangkau, mulai dari Rp6.000 hingga Rp20.000 tergantung ukuran.




