KUDUS – Dua museum di Kabupaten Kudus bakal mendapat sentuhan revitalisasi melalui dukungan anggaran pemerintah pusat.
Kementerian Kebudayaan RI mengalokasikan total Rp 5 miliar untuk Museum Patiayam dan Museum Kretek.
Masing-masing museum memperoleh anggaran Rp 2,5 miliar melalui APBN 2026.
Baca Juga: Persiku Kudus Berdalih Tak Dapat Izin Keamanan
Revitalisasi tidak hanya menyasar penataan interior, tetapi juga penguatan narasi sejarah yang disampaikan melalui koleksi museum.
Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha mengatakan, revitalisasi tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap museum sebagai ruang edukasi dan pengenalan sejarah kepada masyarakat.
“Sesuai arahan Pak Presiden Prabowo, ada dua museum di Kudus yang akan kami perbaiki,” ujar Giring saat melakukan kunjungan kerja di Kudus belum lama ini.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Abdul Halil mengatakan, masing-masing Museum Patiayam dan Museum Kretek mendapat alokasi Rp 2,5 miliar.
Penataan kedua museum tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Menurut Halil, revitalisasi museum tidak cukup hanya dengan membenahi tampilan fisik. Penyusunan narasi sejarah yang menyertai koleksi juga menjadi bagian penting dalam pembenahan.
“Memperbaiki museum tidak hanya fisiknya saja, tetapi juga menguatkan narasinya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sejumlah museum memiliki koleksi yang cukup banyak dan menarik. Namun, tidak seluruh koleksi didukung alur cerita atau story line yang kuat.
Karena itu, koleksi yang ditampilkan nantinya akan disusun dengan narasi yang lebih terarah. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya melihat benda-benda bersejarah, tetapi juga dapat memahami konteks dan rangkaian peristiwa di balik koleksi tersebut.
“Ini yang jadi tantangan, pelan-pelan kita perbaiki. Koleksinya banyak tetapi kita pilih narasi kuat karena yang paling penting narasi,” jelasnya.
Kabid Kebudayaan Disbudpar Kudus Arief Zulfa Tanjung menambahkan, seluruh proses revitalisasi kedua museum tersebut ditangani pemerintah pusat. Kementerian Kebudayaan menangani tahapan mulai perencanaan hingga pengawasan.
“Pengerjaan sepenuhnya dari perencanaan hingga pengawasan langsung dari kementerian, mulai dari Agustus 2026,” kata Tanjung.
Penataan interior nantinya diarahkan untuk membentuk alur sejarah yang lebih runtut. Konsep tersebut diharapkan membuat pengunjung lebih mudah memahami rekam peristiwa masa lalu melalui koleksi yang dipamerkan. (san/him)
Editor : Abdul Rochim