Kudus Siapkan 5 Pilot Project Wisata Ramah Muslim

Abdul Rochim • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 07:34 WIB
KOLEKSI MUSEUM: Pengunjung menikmati koleksi Museum Kretek Kudus. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)
KOLEKSI MUSEUM: Pengunjung menikmati koleksi Museum Kretek Kudus. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)

KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus mulai menyiapkan ekosistem pariwisata ramah muslim sebagai salah satu strategi pengembangan sektor wisata daerah.

Program ini tidak diarahkan untuk mengubah seluruh destinasi menjadi wisata berbasis syariah.

Sebaliknya, konsep yang tengah disiapkan lebih menekankan pada penyediaan fasilitas tambahan agar wisatawan muslim mendapatkan pengalaman berwisata yang lebih nyaman.

Baca Juga: Hari Jadi Kudus ke-477 Makin Meriah, Hadirkan Charly Van Houten dan Guyon Waton

Langkah tersebut sekaligus menjadi persiapan Kudus menghadapi agenda dan program pariwisata nasional yang direncanakan berlangsung pada 2027.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Abdul Halil menjelaskan, wisata ramah muslim pada dasarnya merupakan pendekatan pelayanan kepada wisatawan.

“Wisata ramah muslim itu bukan berarti menjadi wisata syariah, tetapi menyediakan fasilitas yang muslim friendly,” ujar Abdul Halil, Kamis (24/9/2026).

Fasilitas yang disiapkan antara lain petunjuk arah kiblat, kitab suci di kamar penginapan, hingga tempat wudu yang lebih representatif.

Penataan sejumlah fasilitas juga akan mempertimbangkan aspek privasi wisatawan.

Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tetap dapat menikmati destinasi secara umum tanpa harus menjadikan objek wisata tersebut sebagai destinasi khusus berbasis syariah.

Lima Usaha Jadi Percontohan

Konsep tersebut mulai diterapkan melalui sejumlah proyek percontohan atau pilot project. Disbudpar Kudus telah memilih beberapa pelaku usaha dari sektor kuliner, destinasi wisata, dan akomodasi.

Subkoordinator Promosi Wisata Disbudpar Kudus Esti Aristiana Sukmawati mengatakan terdapat lima titik yang disiapkan sebagai pelopor penerapan konsep wisata ramah muslim.

Dari sektor kuliner, ada Soto Djatmi dan Rumah Makan GASASA. Sementara dari sektor destinasi, Museum Jenang dan Kretek Waterpark masuk dalam daftar percontohan.

Adapun sektor akomodasi diwakili Hotel Sapphire dan Hotel Salimna.

“Lima itu yang kami jadikan pilot project. Mudah-mudahan nanti usaha lainnya juga bisa mengikuti,” kata Esti.

Pemilihan sejumlah sektor tersebut menunjukkan bahwa konsep wisata ramah muslim tidak hanya diterapkan di tempat wisata.

Pengalaman wisatawan juga mencakup kebutuhan ketika makan, menginap, hingga menikmati fasilitas rekreasi.

UMKM Bakal Dilibatkan

Pengembangan program juga mulai diarahkan agar tidak berhenti pada destinasi, restoran, dan hotel.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga diproyeksikan menjadi bagian dari ekosistem wisata ramah muslim di Kudus.

Keterlibatan UMKM dinilai penting karena wisatawan tidak hanya mengunjungi objek wisata, tetapi juga berinteraksi dengan produk lokal selama berada di suatu daerah.

Kuliner, kerajinan, oleh-oleh, serta berbagai produk khas Kudus dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan wisatawan.

Melalui sejumlah lokasi percontohan tersebut, Pemkab Kudus berharap konsep wisata ramah muslim dapat diterapkan secara bertahap.

Setelah model awal berjalan, pelaku usaha pariwisata lain diharapkan ikut menyesuaikan fasilitas dan layanan dengan kebutuhan wisatawan muslim.(*)

Editor : Abdul Rochim
wisata ramah muslim Kudus pariwisata Kudus pilot project wisata Kudus wisata muslim 2027 umkm kudus