Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Melihat Masjid Jami' Kajen : Jejak Spiritual Desa Santri

Achmad Ulil Albab • Selasa, 3 Maret 2026 | 15:52 WIB

Masjid Jami' Kajen kaya akan nilai sejarah selain itu interiornya kaya akan nilai estetika. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)
Masjid Jami' Kajen kaya akan nilai sejarah selain itu interiornya kaya akan nilai estetika. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

 

 

PATI - Setiap pagi, ketika kabut tipis masih menggantung di atas persawahan, Desa Kajen mulai menggeliat.

Suara azan bersahut-sahutan, langkah para santri bergegas menuju kitab-kitab mereka, dan aroma kayu tua dari bangunan masjid seakan menyambut siapa pun yang datang.

Di sinilah, di sebuah sudut Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, denyut kehidupan religius tumbuh dan bersemi selama berabad-abad. Kajen bukan sekadar desa.

Ia adalah simpul sejarah, spiritualitas, dan perlawanan sunyi yang membentuk karakter “Desa Santri” hingga hari ini.

Masjid Tua yang Menjadi Pusat Peradaban

Di jantung desa, berdiri kokoh Masjid Jami' Kajen. Atapnya bertumpang tiga, menjulang sederhana namun penuh makna.

 Setiap susunannya melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan—tiga pijakan spiritual yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Masjid ini didirikan pada tahun 1107 Hijriah atau sekitar 1695 Masehi oleh seorang ulama besar, Syekh Ahmad Mutamakkin, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Mutamakkin.

Meski telah dipugar beberapa kali, sentuhan arsitektur Jawa Kuno tetap terjaga. Tiang-tiang jati tua menopang bangunan, lampu gantung antik menggantung di langit-langit, sementara jam dinding kuno terus berdetak, seolah mengingatkan bahwa waktu boleh berlalu, namun nilai-nilai tetap hidup.

Simbol, Filosofi, dan Jejak Masa Lalu

Di balik keheningannya, masjid ini menyimpan banyak cerita. Koordinator Islamic Center Kajen, Mohammad Azwar Anas, menuturkan bahwa masjid masih menyimpan papan bersurat sebagai penanda waktu pembangunan.

Tak hanya itu, mimbar khotbahnya dipenuhi ukiran sarat makna.

“Naga melambangkan tirakat, gajah melambangkan kekuatan diri, dan burung kuntul yang mematuk bulan adalah simbol cita-cita tinggi,” ujarnya.

Setiap ukiran bukan sekadar ornamen. Ia adalah pesan moral yang diwariskan lintas generasi, mengajarkan kesabaran, keteguhan, dan kemampuan beradaptasi dalam hidup.

Ulama Visioner dari Tanah Rantau

Jejak spiritual Kajen tak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang Mbah Mutamakkin. Setelah menimba ilmu di Yaman dan menunaikan ibadah haji, ia akhirnya berlabuh di pesisir utara Jawa, lalu menetap di Kajen.

Di sinilah dakwahnya berkembang. Namun, ia tak hanya mengajarkan ilmu agama. Ia juga menanamkan kesadaran sosial.

Pada masa itu, masyarakat terhimpit pajak tinggi dari kolonial Belanda dan tekanan Kerajaan Kartasura. Ketidakadilan menjadi bagian dari keseharian rakyat kecil.

Mbah Mutamakkin memilih jalan berbeda. Ia tak mengangkat senjata, melainkan membangun kekuatan dari dalam: pendidikan, kemandirian, dan kesadaran berpikir.

Masjid pun menjadi ruang diskusi. Masyarakat berkumpul, membahas persoalan hidup, lalu mencari solusi bersama dalam halaqoh-halaqoh sederhana.

Bangunan Masjid Jami' Kajen tampak dari depan sangat gagah.
Bangunan Masjid Jami' Kajen tampak dari depan sangat gagah.

Dari Tuduhan hingga Kemerdekaan Pajak

Pengaruhnya yang besar membuat penguasa resah. Berbagai fitnah dialamatkan kepadanya. Ia dituduh mengajarkan ajaran menyimpang, bahkan dituding memelihara anjing—isu sensitif pada masa itu.

Ia pun dipanggil dan disidang di Kartasura, dengan ancaman hukuman mati.

Namun, ketenangan dan kedalaman ilmunya justru membalikkan keadaan. Raja terkesan. Mbah Mutamakkin dibebaskan, dan Kajen ditetapkan sebagai Tanah Perdikan—wilayah bebas pajak.

Keputusan itu menjadi tonggak penting: masyarakat Kajen mendapatkan ruang untuk tumbuh tanpa tekanan ekonomi berlebihan.

Lahirnya Desa Santri

Kemenangan moral tersebut menyebar dari mulut ke mulut. Para pencari ilmu mulai berdatangan. Mereka membangun pondokan secara mandiri, tinggal sederhana, belajar dengan penuh kesungguhan.

Dari pondok-pondok kecil itulah, pesantren tumbuh seperti tunas di musim hujan.

Semangat kemandirian dan kebersamaan menjadi warisan utama. Hingga kini, nilai itu masih terasa di setiap sudut desa.

“Saat ini ada sekitar 90 pondok pesantren dengan lebih dari 10.000 santri,” kata Anas.

Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah bukti bahwa benih yang ditanam ratusan tahun lalu masih berbuah hingga hari ini.

Warisan yang Terus Hidup

Menjelang senja, ketika matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan, Masjid Jami’ Kajen kembali dipenuhi jamaah. Santri, warga, dan musafir duduk berdampingan tanpa sekat.

Di antara desah angin dan lantunan doa, terasa bahwa Kajen bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah tentang kesinambungan.

Tentang bagaimana sebuah desa kecil, melalui masjid tua dan seorang ulama visioner, mampu membangun peradaban berbasis ilmu, keadilan, dan kemandirian.

Dan hingga kini, denyut itu masih berdegup—pelan, tenang, namun tak pernah padam. (aua)

 

Editor : Achmad Ulil Albab
#kajen #desa kajen #pati #santri #masjid jami' #desa #peradaban #filosofi