PATI — Pendopo Kabupaten Pati kini tak lagi sekadar menjadi simbol kekuasaan atau tempat upacara seremonial.
Di bawah kepemimpinan Bupati Pati, Sudewo, pendopo kini diarahkan menjadi ruang publik yang terbuka bagi semua lapisan masyarakat.
Konsep baru ini bertujuan menghadirkan sisi humanis dari bangunan bersejarah tersebut sekaligus menjadi sarana edukatif.
Menurut pemerhati sejarah di Kabupaten Pati, Ragil Haryo, pendopo pada masa lalu merupakan ruang eksklusif yang diperuntukkan bagi musyawarah penting, perjamuan tamu negara, maupun upacara-upacara ritual.
“Pendopo menjadi sarana penghubung antara bupati atau pemimpin daerah dengan tamu penting, pejabat, maupun rakyatnya,” jelas Ragil.
Namun, kini paradigma tersebut bergeser. Pendopo Kabupaten Pati dirancang sebagai destinasi wisata edukatif yang terbuka bagi masyarakat.
Bupati Sudewo menjelaskan bahwa perubahan ini merupakan bagian dari upaya menjadikan pendopo sebagai "rumah rakyat".
“Terima kasih kehadirannya, Pendopo dikunjungi. Pendopo ini memang saya konsep untuk bisa menjadi tempat wisata bagi rakyat Kabupaten Pati,” ujar Sudewo dalam keterangannya.
Ia menambahkan, pembukaan akses ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya.
“Saya terbuka kepada siapa saja, utamanya kepada anak-anak PAUD, TK, SD, dan SMP untuk berkunjung di Pendopo Kabupaten. Pendopo yang merupakan simbol rumah rakyat Kabupaten Pati. Jadi silakan untuk dinikmati dan dilihat,” tambahnya.
Sudewo juga mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga kenyamanan dan keindahan pendopo.
“Kalau memang ada sesuatu yang perlu disampaikan sebagai kritik, sebagai masukan, nanti sampaikan saja,” tuturnya.
Langkah ini dinilai sejalan dengan tren nasional, di mana banyak bangunan bersejarah seperti Keraton Surakarta, Mangkunegaran, hingga Yogyakarta telah lebih dahulu dibuka sebagai obyek wisata edukatif.
Ragil Haryo menyebutkan, hal ini adalah bentuk transformasi ruang eksklusif menjadi ruang yang humanis dan mendidik.
Ke depan, ia berharap pemerintah daerah juga dapat menghadirkan edukator atau pemandu yang mampu menjelaskan sejarah dan fungsi bagian-bagian pendopo, termasuk Kantor Bupati.
Dengan begitu, kunjungan masyarakat akan semakin bermakna sebagai ruang belajar sejarah dan budaya lokal. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab