PATI, RadarPati.ID - Kabupaten Pati memiliki sejumlah destinasi wisata menarik, seperti Air Terjun Lorodan Semar, Goa Pancur, Goa Wareh, dan Goa Larangan.
Namun, potensi wisata yang dimiliki "Bumi Mina Tani" ini masih belum tergarap maksimal karena terkendala dana dan minimnya perhatian dari investor.
Menurut Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pati, Muhammad Roni, sektor wisata, khususnya wisata goa, membutuhkan pembenahan besar setelah terdampak pandemi Covid-19. Hal ini penting untuk meningkatkan daya tarik wisatawan.
“Potensi kita sebenarnya bagus. Misalnya Goa Larangan, kondisinya cukup baik. Tapi pasca-Covid, perlu banyak pembenahan. Kendala utamanya adalah dana,” jelas Roni.
Roni berharap ke depan ada investor yang bersedia mengembangkan wisata goa di Pati, seperti yang terjadi di Goa Pindul atau Goa Gong di Pacitan.
Kedua destinasi tersebut berkembang pesat karena adanya dukungan dana besar dari pihak swasta.
“Jika ada investor yang berani masuk dan mengembangkan wisata goa, saya yakin hasilnya akan sangat bagus,” tambahnya.
Sayangnya, banyak destinasi wisata di Pati yang mengalami stagnasi, bahkan beberapa di antaranya mati suri.
Contohnya adalah Juwana Water Fantasy (JWF) di Kecamatan Batangan, Wisata Bendungan Kletek (WBK) di Kecamatan Puncakwangi, Larisso Garden di Kecamatan Dukuhseti, dan Arga Pesona di Kecamatan Kayen.
Goa Wareh di Sukolilo, misalnya, sudah mengusulkan pengembangan berupa fasilitas kolam renang anak-anak dengan konsep foto bawah air seperti Umbul Ponggok di Klaten.
Namun, rencana tersebut gagal terealisasi.
Menurut pengurus Wisata Goa Wareh, Karsijan, pihaknya sudah beraudiensi dengan Pemerintah Kabupaten Pati untuk menyampaikan potensi pengembangan.
Namun, hingga kini hasilnya belum terlihat.
Kepala Dinporapar Pati, Rekso Suhartono, menegaskan bahwa tantangan lain adalah minimnya wisatawan dari luar daerah.
Mayoritas pengunjung destinasi wisata di Pati adalah warga lokal.
“Ini masih menjadi pekerjaan rumah kami. Rata-rata pengunjung wisata di Pati berasal dari wilayah lokal. Wisatawan luar daerah hampir tidak ada,” ujar Rekso.
Faktor lain yang menjadi kendala adalah lokasi wisata yang umumnya jauh dari permukiman penduduk dan pusat kota.
Hal ini membuat investor enggan melirik potensi wisata di Pati.
“Sebagian besar lokasi wisata di Pati jaraknya cukup jauh dari permukiman dan perkotaan. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab minimnya kunjungan wisatawan dan kurangnya minat investor,” tambahnya.
Keberlanjutan wisata di Pati bergantung pada sinergi antara pemerintah daerah, kelompok sadar wisata (pokdarwis), dan potensi investasi dari pihak swasta.
Dengan pembenahan yang serius dan dukungan dana yang memadai, wisata di Kabupaten Pati berpeluang besar menjadi destinasi unggulan yang menarik perhatian wisatawan lokal maupun internasional. (adr/him)
Editor : Abdul Rochim