REMBANG, RADARPATI.ID – Museum Islam Nusantara di kompleks masjid Jami Lasem jadi magnet baru wisatawan. Destinasi ini melengkapi spot wisata jelajah kota Pusaka Lasem.
Museum Islam Nusantara ini menjadi pilihan wisata edukatif, yang bisa menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman bagi para pengunjung.
Salah satu penjaga Museum Islam Nusantara, Zaenudin mengamini tingkat pengunjung museum mengalami kenaikan.
Utamanya saat libur sekolah dan pondok. Rata-rata mereka berziarah atau kebetulan melintas di Lasem menyempatkan masuk.
”Biasanya rombongan ziarah,” katanya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus.
Pengunjung yang datang dari berbagai kota. Tidak hanya lingkup Karisidenan Pati, tetapi ada Magelang, Wonosobo (Jateng). Lalu Padang (Sumatra), Riau (Sumatra). Rombongan ziarah di makam Mbah Sambu dan Mbah Srimpet.
Tidak lama ada wisatawan internasional. Ada keturunan Tionghoa dari Thailand.
“Mereka Ingin mengetahui isi masjid dan sejarahnya. Termasuk ada museum. Kemudian beberapa tamu ibu kota juga menghabiskan akhir pekan di Lasem,” ungkapnya.
Untuk kesana lanjut Zaenudin diterapkan karcis. Untuk rombongan biasanya memasukan di dalam kotak amal.
Baca Juga: Dukung Pertanian Tembakau, Pemkab Rembang Gaet Investor
Beda yang perorangan. Anak-anak bayar karcis sebesar Rp 2.000 dan dewasa Rp 5.000.
“Museum dibuka pukul 08.00 sampai pukul 16.30. Ada keinginan sampai 24 jam. Namun masih dipertimbangan karena masih sarpras terbatas,” ujarnya.
Evan, pengunjung museum asal Bekasi mengaku baru kali pertama di museum Islam Nusantara. Ia tau museum referensi dari internet.
“Cari-cari lokasi wisata dekat Rembang-Lasem ketemu museum Islam Nusantara,” ujar Evan yang mengaku tahun lalu pernah main di kampung pecinan, Karangturi Lasem.
Sebelumnya tanggal 12 September 2023, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno membuka soft opening museum Islam Nusantara.
Sebagaimana diketahui isi museum terdiri tiga bagian. Pertama narasi tentang tokoh-tokoh besar pendakwah.
Kedua artefak barang-barang kuno peninggalan masa lalu. Ketiga naskah kuno (manuskrip) milik para kiai. (noe/ali)