RADARPATI.JAWAPOS.COM - Mobil listrik (Electric Vehicle/EV) makin populer berkat efisiensi biaya operasional dan sifatnya yang ramah lingkungan.
Meski demikian, aspek keamanan baterai kerap menjadi perhatian utama calon pengguna, terutama terkait potensi timbulnya panas berlebih (overheating) hingga risiko kebakaran atau ledakan.
Baca Juga: 6 Bagian yang Wajib Dicek Ketika Rawat Mobil di Musim Kemarau
Suhu tinggi yang tak terkendali pada baterai dapat memicu thermal runaway—reaksi berantai yang membuat suhu sel baterai naik secara drastis dalam waktu singkat.
Berikut enam faktor utama yang dapat memicu gangguan fatal pada baterai mobil listrik beserta langkah pencegahannya:
1. Pengisian Daya Berlebihan (Overcharging)
Mengisi daya baterai dalam durasi berlebih (seperti ditinggal semalaman) menggunakan perangkat pengisi daya (charger) yang tidak sesuai atau tidak bersertifikasi dapat memicu akumulasi panas tinggi pada sel baterai.
Pencegahan: Manfaatkan charger resmi dari produsen dan pastikan fitur Battery Management System (BMS) kendaraan bekerja optimal untuk memutus aliran listrik secara otomatis saat kapasitas daya penuh.
2. Kerusakan Fisik dan Benturan Komponen
Benturan keras pada area kolong atau sasis kendaraan—akibat kecelakaan, terbentur batu, atau melibas jalan berlubang—berpotensi merusak struktur pelindung baterai. Kebocoran cairan elektrolit atau deformasi sel baterai dapat memicu reaksi kimia berbahaya.
Pencegahan: Jika kendaraan mengalami benturan keras di area bawah, segera bawa ke bengkel resmi untuk inspeksi komprehensif pada integritas fisik baterai dan sistem kelistrikannya.
3. Paparan Suhu Ekstrem Secara Terus-Menerus
Memparkir kendaraan di bawah terik matahari langsung dalam durasi lama di wilayah bersuhu tinggi dapat meningkatkan suhu residual di sekitar paket baterai, yang berdampak negatif pada kestabilan kimiawi sel baterai.
Pencegahan: Sebisa mungkin pilih area parkir yang teduh, tertutup, atau berada di dalam gedung (indoor) untuk menjaga suhu baterai tetap berada dalam kisaran kerja ideal.
4. Cacat Manufaktur atau Kerusakan Bawaan Pabrik
Paket baterai EV terdiri dari ribuan sel kecil yang saling terhubung. Cacat produksi pada salah satu sel—baik akibat kontaminasi material maupun kesalahan perakitan—dapat memicu hubungan arus pendek (short circuit) internal tanpa peringatan awal.
Pencegahan: Pilih kendaraan dari pabrikan yang menerapkan uji standar keamanan baterai yang ketat, serta selalu tanggap terhadap instruksi penarikan kembali (recall) dari produsen.
5. Gangguan pada Sistem Pendingin Baterai (Battery Cooling System)
Baterai menghasilkan panas signifikan saat mobil dikendarai maupun saat proses pengisian daya cepat (fast charging). Jika sistem pendingin (baik berbasis cairan/Liquid Cooling maupun udara) mengalami kebocoran atau malafungsi, suhu baterai akan melonjak cepat.
Pencegahan: Lakukan pemeriksaan berkala pada volume dan kondisi cairan pendingin (coolant) baterai sesuai jadwal servis resmi.
Baca Juga: Simak! Ini 11 Tips Cara Membeli Mobil Pertama Kali
6. Korsleting Internal (Internal Short Circuit)
Korsleting di dalam struktur sel baterai dapat dipicu oleh kelembapan tinggi, masuknya partikel asing, degradasi material seiring pemakaian, atau keausan separator baterai.
Pencegahan: Penggunaan mobil listrik modern kini makin aman karena didukung BMS canggih yang terus memantau arus, tegangan, dan suhu secara real-time. Jika BMS mendeteksi anomali, sistem akan membatasi daya atau mengisolasi paket baterai untuk mencegah bahaya. (*)