RADARPATI.JAWAPOS.COM – Persaingan SUV di Indonesia semakin menarik dengan hadirnya model-model baru yang membawa pendekatan berbeda.
Salah satunya ketika Jetour T2 dibandingkan dengan Mitsubishi Pajero Sport Dakar.
Keduanya sama-sama menawarkan bodi SUV, tetapi karakter yang dibawa cukup bertolak belakang.
Baca Juga: Xpander Hybrid Disiapkan Mitsubishi, MPV 7 Penumpang Ini Masuk Babak Baru
Pajero Sport Dakar mengandalkan sasis ladder frame dan mesin diesel, sedangkan Jetour T2 menggunakan konstruksi monokok dengan mesin bensin turbo.
Dari sisi harga, Pajero Sport Dakar yang menjadi pembanding berada di kisaran Rp 670 juta.
Varian Ultimate memiliki banderol lebih tinggi karena dibekali tambahan seperti kamera 360 derajat, adaptive cruise control, perbedaan warna interior, hingga sunroof.
Sementara itu, Jetour T2 lebih menonjolkan teknologi dan nuansa modern sejak pengemudi masuk ke dalam kabin.
Interior Jetour T2 Lebih Sarat Teknologi
Bagian kabin menjadi salah satu perbedaan yang paling mudah dirasakan.
Jetour T2 membawa desain interior yang lebih modern dengan perhatian terhadap material, tata letak, serta sejumlah detail pendukung kenyamanan.
SUV tersebut dilengkapi panoramic sunroof berukuran besar, kamera 540 derajat, ADAS Level 2, sistem audio Sony dengan 12 speaker, ventilated seat, ambient light, wireless charging dengan kipas, hingga X-Mode untuk pengaturan berkendara.
Ruang penyimpanan juga tersedia di berbagai bagian kabin, termasuk cup holder dengan lapisan karet dan sejumlah kompartemen tambahan.
Pajero Sport Dakar tampil lebih sederhana. Namun, SUV Mitsubishi tersebut mempunyai keunggulan pada kapasitas kabin karena mampu membawa tujuh penumpang.
Kursi baris ketiganya dapat dilipat rata dengan lantai. Selain itu, terdapat double blower yang menjangkau hingga baris belakang serta inverter 150 watt.
Dalam penilaian kenyamanan pada pengujian tersebut, Jetour T2 memperoleh nilai 9, sedangkan Pajero Sport Dakar mendapat 7.
Diesel Pajero Sport vs Turbo Bensin Jetour
Perbedaan karakter juga terlihat pada sektor mesin.
Pajero Sport Dakar menggunakan mesin diesel 4N15, mesin yang telah digunakan dalam waktu cukup panjang.
Karakter mesinnya disebut relatif halus untuk sebuah diesel, baik dari suara maupun getaran. Respons performa dan transmisinya juga dinilai cukup sigap.
Untuk sektor mesin, Pajero Sport memperoleh nilai 8.
Jetour T2 mengandalkan mesin bensin turbo berkapasitas 2.000 cc.
Dalam pengujian, SUV tersebut mampu mencatat akselerasi 0-100 kilometer per jam sekitar 9 detik.
Namun, performa tersebut harus dibayar dengan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi.
Penggunaan dalam kota berada di kisaran 1:7 hingga 1:8, sedangkan perjalanan Jakarta-Klaten mencatat sekitar 11,3-11,4 km per liter.
Salah satu keuntungannya, mesin bensin Jetour T2 masih dapat menggunakan bahan bakar dengan spesifikasi RON 92.
Untuk efisiensi bahan bakar, Pajero Sport mendapat nilai 8, sedangkan Jetour T2 berada di angka 6.
Monokok Lebih Stabil, Ladder Frame Siap Medan Berat
Konstruksi sasis turut memengaruhi karakter kedua SUV tersebut.
Jetour T2 yang menggunakan monokok dinilai lebih stabil ketika dipakai di jalan raya.
Handling-nya memperoleh nilai 8, sementara Pajero Sport Dakar mendapat 6 dalam pengujian on-road.
Sebaliknya, Pajero Sport Dakar mempunyai karakter yang lebih dekat dengan SUV untuk kebutuhan medan berat.
Varian tertentu menawarkan sistem four-wheel drive dan low gear.
Rancangan intake juga mendukung penggunaan offroad. Kemampuan water wading-nya disebut mampu mencapai sekitar 800 mm.
Karena pengujian dilakukan dalam penggunaan jalan raya, kemampuan offroad Pajero Sport tidak menjadi faktor utama dalam penilaian.
Dengan karakter tersebut, Jetour T2 lebih menonjolkan teknologi, kenyamanan kabin dan kemampuan berkendara di aspal.
Pajero Sport Dakar menawarkan pendekatan berbeda melalui mesin diesel, konstruksi ladder frame dan kapasitas tujuh penumpang.
Pilihan akhirnya sangat bergantung pada kebutuhan penggunaan.
Jetour T2 membawa konsep SUV modern dengan teknologi melimpah, sedangkan Pajero Sport Dakar mempertahankan karakter SUV konvensional yang lebih berorientasi pada ketangguhan dan fleksibilitas medan.(*)