RADAR PATI - Harga sejumlah HP Xiaomi dan POCO dipastikan mengalami kenaikan di Jepang mulai September 2026. Penyesuaian harga tersebut dipengaruhi meningkatnya biaya komponen memori yang membuat beban produksi smartphone semakin besar.
Kenaikan harga akan diterapkan secara bertahap. Produk Xiaomi dan Redmi mulai menggunakan harga baru pada 1 September 2026, sedangkan sejumlah perangkat POCO menyusul pada 4 September 2026.
Besaran penyesuaian berbeda berdasarkan model dan kapasitas penyimpanan. Jika dikonversikan ke rupiah, kenaikan smartphone yang mencapai 20.000 yen setara dengan sekitar Rp2,2 juta, dengan asumsi kurs sekitar Rp110 per 1 yen. Nilai dalam rupiah tersebut merupakan perkiraan dan dapat berubah mengikuti kurs.
Salah satu perangkat yang terdampak adalah Xiaomi 17T Pro. Varian RAM 12GB dengan penyimpanan 256GB yang sebelumnya dibanderol 119.800 yen atau sekitar Rp13,2 juta, naik menjadi 139.800 yen atau sekitar Rp15,4 juta.
Untuk konfigurasi RAM 12GB dan penyimpanan 512GB, harganya berubah dari 139.800 yen atau sekitar Rp15,4 juta menjadi 159.800 yen atau sekitar Rp17,6 juta.
Kenaikan juga menyasar lini POCO. POCO X8 Pro Max 12GB/256GB yang sebelumnya berharga 79.980 yen atau sekitar Rp8,8 juta, naik menjadi 99.980 yen atau sekitar Rp11 juta.
Sementara varian POCO X8 Pro Max dengan RAM 12GB dan penyimpanan 512GB mengalami perubahan dari 89.980 yen atau sekitar Rp9,9 juta menjadi 109.980 yen atau kurang lebih Rp12,1 juta.
POCO X8 Pro juga tidak luput dari penyesuaian. Varian 8GB/256GB yang sebelumnya 59.980 yen atau sekitar Rp6,6 juta meningkat menjadi 79.980 yen atau sekitar Rp8,8 juta.
Adapun versi 8GB/512GB naik dari 69.980 yen atau sekitar Rp7,7 juta menjadi 89.980 yen atau sekitar Rp9,9 juta.
Tidak hanya smartphone, beberapa tablet Xiaomi dan Redmi turut mengalami kenaikan. Penyesuaiannya berada pada kisaran 2.000 hingga 10.000 yen atau sekitar Rp220 ribu hingga Rp1,1 juta, tergantung model dan konfigurasi.
Kebijakan tersebut berkaitan dengan semakin tingginya biaya komponen. Xiaomi sebelumnya berusaha menyerap kenaikan biaya produksi agar harga jual perangkat tidak terlalu cepat berubah. Namun, tekanan harga memori membuat strategi tersebut semakin sulit dipertahankan.
Dampaknya juga terlihat pada bisnis smartphone Xiaomi. Laporan Reuters menyebut pendapatan bisnis smartphone perusahaan pada kuartal II 2026 turun 7,5 persen secara tahunan, sementara pengiriman smartphone turun 26 persen.
Kondisi industri smartphone China turut menghadapi tekanan. Data Counterpoint Research yang dikutip dalam laporan sebelumnya menunjukkan penjualan smartphone di China turun 13 persen selama festival belanja 618. Produsen disebut mengurangi diskon dan menaikkan harga untuk mengimbangi meningkatnya biaya memori.
Meski demikian, konsumen Indonesia tidak serta-merta akan menghadapi kenaikan dengan nominal yang sama. Daftar harga yang diumumkan kali ini berlaku untuk pasar Jepang. Harga Xiaomi dan POCO di Indonesia dapat berbeda karena dipengaruhi kurs, pajak, biaya distribusi, serta kebijakan harga regional.
Dengan demikian, kenaikan harga di Jepang belum dapat dijadikan patokan bahwa seluruh HP Xiaomi yang dipasarkan di Indonesia akan naik dengan besaran serupa. Namun, kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana mahalnya komponen memori mulai memberikan tekanan terhadap harga smartphone secara global.
Editor : Mahendra Aditya