RADARPATI.JAWAPOS.COM – Motor listrik semakin diminati masyarakat Indonesia seiring bertambahnya pilihan model, harga yang lebih kompetitif, serta biaya operasional yang diklaim lebih murah dibandingkan motor berbahan bakar bensin.
Namun, harga beli bukan satu-satunya faktor yang perlu dipertimbangkan calon konsumen.
Untuk mengetahui kendaraan mana yang lebih hemat, perlu melihat total cost of ownership (TCO), mulai dari biaya energi, servis berkala, perawatan, pajak, hingga nilai jual kembali.
Baca Juga: 6 Motor Listrik Subsidi Lokal Terbaik 2026, Cocok untuk Harian dan Hemat Biaya Operasional
Biaya Energi Motor Listrik Jauh Lebih Murah
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan motor listrik memiliki keunggulan signifikan dari sisi konsumsi energi.
Menurutnya, biaya penggunaan motor listrik hanya sekitar Rp 42 per kilometer, sedangkan motor bensin berkisar Rp 200 hingga Rp 246 per kilometer.
Dengan asumsi penggunaan 15.000 kilometer per tahun, selama lima tahun biaya energi motor listrik diperkirakan hanya Rp 3–4 juta, sementara motor bensin mencapai Rp 14–18 juta.
Artinya, pengguna motor listrik berpotensi menghemat Rp 11–14 juta hanya dari biaya energi.
Yannes juga menilai, apabila insentif pembelian motor listrik kembali diberlakukan, masa balik modal (break even point) bisa tercapai dalam waktu sekitar dua hingga tiga tahun.
AISI: Perbandingan Tak Selalu Sederhana
Di sisi lain, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala, menilai perbandingan biaya kepemilikan selama lima tahun tidak bisa disamakan begitu saja.
Menurutnya, motor bensin modern sudah sangat irit dengan konsumsi rata-rata 45–55 kilometer per liter, sedangkan motor listrik umumnya memiliki daya jelajah sekitar 30–35 kilometer per kWh.
Karena itu, efisiensi tetap bergantung pada pola penggunaan masing-masing pengendara.
Servis Motor Listrik Lebih Murah
Dari sisi perawatan, motor listrik dinilai lebih hemat karena tidak memerlukan penggantian oli mesin, filter bahan bakar, busi, maupun v-belt.
Biaya servis rutin motor listrik diperkirakan hanya Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu per tahun.
Sebaliknya, motor bensin dapat menghabiskan Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per tahun hanya untuk perawatan berkala.
Selain itu, baterai motor listrik umumnya telah dilindungi garansi selama 3–5 tahun atau hingga 50.000–100.000 kilometer.
Sehingga dalam lima tahun pertama umumnya belum membutuhkan penggantian.
Baterai Masih Menjadi Tantangan
Pengamat otomotif Bebin Djuana mengingatkan bahwa baterai masih menjadi perhatian utama calon konsumen motor listrik.
Selain harga baterai yang relatif mahal, belum ada acuan pasti mengenai usia pakainya dalam penggunaan jangka panjang.
Ia juga menilai bobot motor listrik yang lebih berat berpotensi membuat ban lebih cepat aus dibandingkan motor bensin.
Di samping itu, sebagian besar motor listrik saat ini masih memiliki jarak tempuh di bawah 120 kilometer dalam sekali pengisian daya, sehingga pengguna dengan mobilitas tinggi perlu lebih sering melakukan pengisian atau penukaran baterai.
Pajak Lebih Ringan, Nilai Jual Kembali Jadi Tantangan
Dari sisi pajak, motor listrik memiliki keuntungan karena beban pajaknya relatif lebih rendah dibandingkan motor bensin.
Namun, sejak berlakunya Permendagri Nomor 11 Tahun 2026, pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) tidak lagi berlaku secara otomatis.
Meski demikian, pemerintah daerah masih dapat memberikan insentif sesuai kebijakan masing-masing.
Sementara itu, nilai jual kembali motor listrik diperkirakan mengalami depresiasi lebih besar dibandingkan motor bensin.
Penyebabnya adalah kekhawatiran konsumen terhadap kondisi baterai dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Meski begitu, Yannes menilai penurunan nilai jual tersebut masih dapat diimbangi oleh penghematan biaya operasional.
Terutama bagi pengguna yang menempuh jarak sekitar 15.000 kilometer per tahun. (*/him)