Persiku Kudus Diterpa Isu Pengaturan Skor

Abdul Rochim • Dipublikasikan Sabtu, 7 November 2026 | 09:19 WIB
Logo Periku Kudus. (DOK. Ist)
Logo Periku Kudus. (DOK. Ist)

KUDUS – Persiku Kudus kembali menghadapi persoalan di luar lapangan setelah muncul dugaan praktik pengaturan skor.

Isu tersebut mencuat setelah polemik pemutusan kontrak pemain tanpa kejelasan kompensasi.

Seorang sumber internal klub menuding adanya praktik pengaturan permainan yang melibatkan orang-orang di lingkungan Persiku.

“Pastilah sudah tahu permainan mereka itu bagaimana. Orang-orang sudah tahu karena yang mengatur sekarang itu mafia. Itu jelas-jelas, nyata sekali permainannya,” tuturnya.

Baca Juga: Lima Pemain Persiku Kudus Diputus Kontrak Sepihak, Kompensasi Belum Jelas

Sumber tersebut meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Di sisi lain, Persiku masih berada di dasar klasemen Grup Barat Championship 2026/2027.

Tim berjuluk Macan Muria itu belum meraih kemenangan dalam delapan pertandingan.

Baca Juga: Dugaan Match Fixing, Sumber Internal Persiku Kudus Sebut Imbalan Puluhan Juta Per Pertandingan

Persiku juga telah kebobolan 32 gol di seluruh kompetisi, termasuk tiga gol dalam kekalahan WO melawan PSIS Semarang.

Jika gol akibat kekalahan WO tidak dihitung, jumlah kebobolan dalam pertandingan yang dimainkan mencapai 29 gol.

Sebanyak 17 gol atau 58,62 persen di antaranya tercipta pada babak kedua.

Pola tersebut terlihat dalam sejumlah pertandingan terakhir Persiku.

Saat menghadapi Sumsel United pada 10 Oktober, Persiku bermain imbang pada babak pertama.

Namun, tim kemudian kebobolan empat gol dan kalah dengan skor 1-5.

Kondisi serupa terjadi ketika Persiku bertandang ke markas PSPS Pekanbaru pada 18 Oktober.

Setelah imbang 1-1 saat jeda, Persiku akhirnya menyerah 1-4.

Saat menjamu Semen Padang pada 24 Oktober, Persiku juga mampu mempertahankan skor 0-0 hingga turun minum.

Namun, pertandingan berakhir dengan kekalahan 1-2.

Teranyar, Persiku kalah 2-6 dari Persikad dalam ajang I.League Cup pada 4 November.

Setelah bermain imbang 2-2 pada babak pertama, Persiku kembali kebobolan empat gol.

Sejak pertandingan melawan Sumsel United, Persiku telah kebobolan 20 gol.

Sebanyak 15 gol atau 75 persen terjadi pada babak kedua.

“Cara mainnya begitu, cara mengatur mereka begitu. Itu ada dari pemain dan tangan kanan bos di situ,” ungkap sumber tersebut.

Sumber itu juga menyebut dugaan adanya imbalan kepada pemain dengan nilai melebihi gaji.

“Saya dengar lumayan besar, lebih besar dari gaji mereka. Apalagi kalau mereka kerjanya bagus dan berhasil. Puluhan juta setiap pertandingannya. Kalau kita sudah masuk di situ, susah keluarnya,” imbuhnya.

Menurut sumber lain, persoalan Persiku juga berkaitan dengan orang-orang yang berada di lingkungan internal klub.

Ia menilai keberadaan pihak yang dianggap tidak tepat justru memperburuk situasi manajemen.

“Ada orang masuk yang salah, saya tidak bisa menyebutkan, akhirnya menyebarkan penyakit itu. Seperti kanker,” ujarnya.

Sumber tersebut berharap keberadaan Persiku di Kudus dapat memperkuat pengawasan dari suporter.

Dukungan masyarakat diharapkan menjadi kontrol sosial terhadap pengelolaan klub.

“Saya pikir dengan dibawa ke Kudus itu, dengan adanya suporter, itu bisa menjadi control balance-nya. Kasihan Persikunya. Bukan Persiku yang sakit, tetapi oknum-oknumnya,” pungkasnya. (*)

 
Editor : Abdul Rochim
Championship 2026/2027 dugaan pengaturan skor match fixing Persiku sepak bola Kudus persiku kudus