RADARPATI.JAWAPOS.COM - Masa skorsing selama 12 bulan yang dijatuhkan FIFA kepada tujuh pemain naturalisasi Malaysia berakhir pada awal Oktober 2026. Namun, berakhirnya hukuman tersebut tidak serta-merta membuat mereka bisa kembali memperkuat tim nasional berjuluk Harimau Malaya.
Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) mengonfirmasi bahwa ketujuh pemain tersebut tetap tidak dapat membela Malaysia di level internasional. Situasi ini berkaitan dengan persoalan kelayakan pemain yang berbeda dari hukuman disiplin yang sebelumnya mereka terima.
Baca Juga: Jadwal Timnas Jelang Piala Asia 2027, November-Desember
Kasus tersebut menjadi sorotan karena para pemain telah menyelesaikan masa skorsing, tetapi status mereka untuk memperkuat tim nasional masih menjadi persoalan tersendiri.
Kronologi Kasus yang Menjerat Tujuh Pemain
Kasus ini melibatkan Facundo Garcés, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, João Figueiredo, Gabriel Palmero, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
FIFA menjatuhkan sanksi kepada FAM dan ketujuh pemain setelah menemukan dugaan pelanggaran terkait penggunaan dokumen yang digunakan untuk membuktikan kelayakan mereka memperkuat tim nasional Malaysia.
Dalam keputusan tersebut, para pemain dijatuhi skorsing selama 12 bulan dari seluruh aktivitas sepak bola. Sementara itu, FAM dikenai denda sebesar 350.000 franc Swiss. FIFA juga membatalkan hasil pertandingan resmi yang melibatkan pemain yang dinyatakan tidak memenuhi ketentuan.
FAM kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Namun, berdasarkan informasi dalam laporan tersebut, upaya banding itu tidak mengubah keputusan FIFA sehingga sanksi tetap berlaku.
Mengapa Tetap Tidak Bisa Membela Timnas Malaysia?
Berakhirnya skorsing individu hanya menandai selesainya masa hukuman disiplin. Hal itu tidak otomatis menghapus persoalan mengenai kelayakan seorang pemain untuk membela tim nasional.
Baca Juga: 4 Pemain Yang Diharapkan Bisa Bela Timnas Indonesia di Piala Asia 2027
Dalam sepak bola internasional, kepemilikan paspor atau kewarganegaraan suatu negara tidak selalu cukup untuk memenuhi seluruh persyaratan FIFA. Pemain juga harus memenuhi ketentuan kelayakan yang berlaku, termasuk persyaratan terkait hubungan dengan negara yang ingin diwakilinya.
Karena itu, meskipun masa skorsing mereka telah berakhir, ketujuh pemain tersebut masih menghadapi persoalan mengenai status kelayakan untuk memperkuat Malaysia. Dua hal itu harus dibedakan: hukuman disiplin berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan, sedangkan kelayakan menentukan apakah seorang pemain berhak tampil untuk tim nasional.
Presiden FAM, Datuk Ab Ghani Hassan, disebut menegaskan bahwa para pemain tersebut tidak dapat lagi mewakili Malaysia dalam pertandingan internasional.
Dampak terhadap Sepak Bola Malaysia
Kasus ini berpotensi membawa dampak jangka panjang bagi sepak bola Malaysia, terutama dalam penyusunan skuad tim nasional dan proses naturalisasi pemain.
Pembatalan hasil pertandingan yang melibatkan pemain tidak memenuhi syarat juga dapat memengaruhi posisi Malaysia dalam kompetisi internasional. Laporan tersebut turut menyebut adanya dampak terhadap hasil Kualifikasi Piala Asia 2027.
FAM juga disebut berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri Malaysia untuk mengevaluasi prosedur penerbitan paspor dan dokumen kewarganegaraan atlet. Langkah tersebut penting untuk mencegah persoalan serupa terulang pada masa mendatang.
Sementara itu, berakhirnya masa skorsing membuka kemungkinan bagi para pemain untuk kembali beraktivitas di level klub, sepanjang tidak ada sanksi lain yang menghalangi mereka. Namun, kesempatan bermain untuk tim nasional tetap bergantung pada keputusan dan ketentuan kelayakan FIFA yang berlaku.
Dengan demikian, berakhirnya hukuman 12 bulan tidak otomatis memulihkan hak ketujuh pemain untuk membela Harimau Malaya. Persoalan disiplin dan kelayakan tim nasional merupakan dua aspek berbeda yang menentukan masa depan mereka di sepak bola internasional. (*)
Editor : Zakarias Fariury