Indonesia bermain imbang 2-2 hingga perpanjangan waktu sebelum akhirnya menang 4-2 dalam adu penalti.
Gelar tersebut menjadi trofi perdana Indonesia pada edisi pertama FIFA ASEAN Cup.
Perjalanan skuad asuhan John Herdman sepanjang turnamen juga cukup produktif. Indonesia mencetak 13 gol dan hanya kebobolan empat kali dalam empat pertandingan.
Baca Juga: John Herdman Targetkan 2 Pemain Keturunan untuk Timnas Indonesia, Punya Syarat Kecepatan 36 Km/Jam
Namun, keberhasilan tersebut bukan berarti pekerjaan Herdman selesai. Justru, ASEAN Cup menjadi pijakan awal sebelum Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih berat di Piala Asia 2027.
Baker Jadi Senjata Baru Indonesia
Salah satu temuan paling menarik dari turnamen tersebut adalah munculnya Mitchell Baker.
Penyerang berusia 19 tahun itu mencetak lima gol saat Indonesia menghancurkan Bangladesh dengan skor 9-2. Lima gol tersebut tercipta pada menit ke-11, 20, 37, 42, dan 90+7.
Baker tampil dalam empat pertandingan dan tiga kali menjadi starter.
Jika dihitung dari total 13 gol Indonesia sepanjang turnamen, pemain tersebut menyumbang sekitar 38,5 persen produktivitas tim.
Catatan tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh Baker di lini depan.
Namun, angka yang sama sekaligus menjadi pengingat bagi Herdman agar tidak membangun serangan dengan ketergantungan terhadap satu pemain.
Analisis Talking Tactics berbasis data Opta menilai Baker memiliki kemampuan pergerakan tanpa bola yang efektif.
Ia mampu mengeksploitasi garis pertahanan lawan dan mencari ruang untuk menerima bola di area berbahaya.
Di sisi lain, pengalaman Baker di level profesional masih terbatas.
Perkembangan sang pemain menjadi salah satu pekerjaan menarik bagi Herdman dalam beberapa bulan mendatang.
Herdman Punya Fleksibilitas Taktik
Selain produktivitas, ASEAN Cup juga memperlihatkan bahwa Herdman tidak terpaku pada satu pola permainan.
Pelatih asal Inggris tersebut beberapa kali menggunakan struktur tiga bek beserta variasinya.
Saat menghadapi Singapura, Indonesia menggunakan bentuk 5-4-1. Pada final kontra Thailand, susunan awal Garuda tercatat menggunakan 3-4-2-1.
Sistem tersebut memungkinkan Indonesia memiliki jumlah pemain yang cukup di lini pertahanan sekaligus memberikan ruang kepada pemain di belakang penyerang untuk bergerak.
Baker dapat menjadi titik akhir serangan ketika Indonesia menggunakan penyerang tunggal. Sementara Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, Luke Vickery, serta pemain dari lini kedua memberikan alternatif dalam membangun serangan.
Fleksibilitas tersebut terlihat jelas ketika Indonesia menghadapi Malaysia.
Thom Haye menerima kartu merah pada menit ke-37 sehingga Indonesia harus bermain dengan 10 pemain.
Tim Merah Putih kemudian bermain lebih dalam dan berhasil mempertahankan skor 0-0 meski Malaysia lebih dominan dalam penguasaan bola dan jumlah tembakan.
Statistik Indonesia Menunjukkan Dua Karakter
Indonesia juga memperlihatkan dua wajah sepanjang turnamen.
Saat melawan Singapura, Garuda mampu menguasai 57 persen penguasaan bola dan menang 2-0.
Namun, ketika menghadapi Malaysia, penguasaan bola Indonesia turun menjadi 37 persen.
Situasi berubah drastis karena harus bermain dengan 10 pemain, tetapi lini pertahanan tetap mampu menjaga gawang tidak kebobolan.
Ketika menghadapi Bangladesh, pendekatan agresif kembali terlihat. Indonesia melepaskan 31 tembakan dengan 16 di antaranya mengarah ke gawang.
Final melawan Thailand kembali menunjukkan sisi berbeda. Indonesia lebih banyak menguasai bola, tetapi sempat kesulitan menghasilkan peluang bersih pada sebagian besar pertandingan.
Setelah Thailand kehilangan satu pemain pada 10 menit terakhir waktu normal, Indonesia tetap berusaha mengambil kendali permainan.
Dean James kemudian membawa Indonesia unggul pada menit ke-84. Thailand menyamakan skor tiga menit kemudian dan bahkan berbalik memimpin pada menit ke-111 melalui Peeradol Chamratsamee.
Elkan Baggott menjadi penyelamat setelah mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-116.
Pada adu penalti, Emil Audero kemudian menjadi salah satu penentu kemenangan Indonesia.
Piala Asia 2027 Akan Menjadi Tes Sesungguhnya
Jika ASEAN Cup menjadi panggung untuk membangun kepercayaan diri, Piala Asia 2027 akan menjadi ujian dengan tingkat kesulitan berbeda.
Indonesia tergabung di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand.
Garuda dijadwalkan menghadapi Jepang pada 11 Januari 2027, Qatar pada 16 Januari, kemudian Thailand pada 20 Januari.
Jepang merupakan salah satu kekuatan utama Asia. Qatar juga bukan lawan sembarangan karena menjadi juara Piala Asia dalam dua edisi sebelum 2027.
Thailand pun sudah memberikan gambaran mengenai tantangan yang akan dihadapi Indonesia. Kedua tim bahkan harus menyelesaikan final ASEAN Cup melalui adu penalti.
Herdman sebelumnya menilai hasil undian tersebut sebagai sebuah peluang. Indonesia memang bukan unggulan utama, tetapi status tersebut menurutnya dapat membuat pemain tampil tanpa beban berlebihan.
Masih Ada Pekerjaan Rumah
Trofi ASEAN Cup memberikan Herdman sejumlah modal penting, tetapi terdapat beberapa pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
Kedalaman lini serang menjadi salah satunya. Lima dari 13 gol Indonesia memang berasal dari Baker, tetapi level lawan di Piala Asia akan jauh lebih tinggi.
Indonesia juga harus meningkatkan kemampuan menghadapi tekanan dari lawan yang memiliki kualitas individu dan organisasi permainan lebih baik.
Fleksibilitas tiga bek yang menjadi salah satu ciri permainan Herdman perlu dipertahankan.
Namun, sistem tersebut juga harus semakin matang ketika menghadapi tim yang mampu melakukan tekanan sejak lini pertama.
Herdman juga telah membuka peluang penambahan kekuatan untuk menghadapi agenda berikutnya.
Sejumlah pemain seperti Jay Idzes, Mees Hilgers, Miliano Jonathans, dan Marselino Ferdinan menjadi bagian dari nama yang dipantau atau diharapkan dapat memperkuat skuad.
Dengan demikian, keberhasilan di FIFA ASEAN Cup 2026 seharusnya tidak menjadi garis akhir.
Indonesia sudah mendapatkan trofi, Baker menemukan momentum, dan Herdman mulai memperlihatkan identitas permainan.
Tantangan sebenarnya kini adalah membuktikan apakah modal tersebut cukup ketika Garuda berhadapan dengan lawan-lawan papan atas Asia.(*)