RADARPATI.JAWAPOS.COM – Final FIFA ASEAN Cup 2026 bukan hanya mempertemukan Indonesia dan Thailand dalam perebutan trofi.
Pertarungan menarik juga terjadi di lini depan melalui duel dua penyerang yang sama-sama tengah berada dalam sorotan, Mitchell Baker dan Teerasak Poeiphimai.
Keduanya menjadi bagian penting dari perjalanan masing-masing tim menuju partai puncak yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10) malam WIB.
Baca Juga: Dua Bek Bundesliga Bertemu di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks vs Nicholas Mickelson
Baker datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah mencatat penampilan luar biasa pada pertandingan terakhir fase grup.
Penyerang Timnas Indonesia tersebut mencetak lima gol ketika Garuda mengalahkan Bangladesh dengan skor 9-2.
Tambahan tersebut membuat koleksi gol internasional Baker mencapai sembilan gol dari tujuh penampilan.
Produktivitas itu menjadi modal penting Indonesia menjelang pertandingan penentuan.
Teerasak Lebih Berpengalaman
Thailand juga memiliki mesin gol yang tidak kalah berbahaya. Teerasak Poeiphimai telah menjadi salah satu opsi utama di lini depan skuad Gajah Perang.
Striker berusia 24 tahun itu langsung menunjukkan ketajamannya pada pertandingan pertama Thailand di turnamen.
Teerasak mencetak dua gol ketika Thailand menang 4-0 atas Pakistan di Grup B.
Dari sisi pengalaman internasional, Teerasak berada jauh di depan Baker. Ia sudah mengoleksi 36 penampilan bersama tim nasional Thailand.
Sementara Baker baru tujuh kali tampil untuk Indonesia.
Meski demikian, pengalaman bukan satu-satunya ukuran. Dalam hal produktivitas, Baker justru memiliki catatan yang lebih mencolok.
Ia mampu mencetak sembilan gol hanya dari tujuh pertandingan internasional.
Teerasak sendiri harus melewati 12 pertandingan bersama Thailand sebelum akhirnya mencetak gol pertamanya untuk tim nasional.
Karakter Permainan Berbeda
Duel kedua pemain semakin menarik karena memiliki karakter permainan yang berbeda.
Baker memiliki postur hampir dua meter. Keunggulan fisik tersebut membuatnya menjadi ancaman ketika Indonesia memainkan bola-bola atas maupun memanfaatkan situasi bola mati di sekitar kotak penalti.
Sementara Teerasak memiliki tinggi sekitar 181 sentimeter.
Penyerang Thailand tersebut lebih mengandalkan pergerakan dan kelincahan untuk membuka ruang di lini pertahanan lawan.
Perbedaan gaya tersebut dapat membuat pertarungan lini depan menjadi salah satu aspek menarik dalam final.
Indonesia memiliki Baker yang sedang panas setelah mencetak lima gol pada pertandingan sebelumnya.
Thailand datang dengan Teerasak yang memiliki jam terbang internasional lebih panjang.
Satu Laga, Satu Trofi
Pertandingan final membuat seluruh catatan sebelumnya pada akhirnya harus dibuktikan kembali di lapangan.
Baker berpeluang melanjutkan ketajamannya sekaligus membawa Indonesia meraih trofi.
Di sisi lain, Teerasak memiliki kesempatan mempertegas perannya sebagai salah satu penyerang penting Thailand.
Dalam pertandingan sebesar final, satu peluang yang berhasil dikonversi menjadi gol dapat mengubah jalannya pertandingan.
Karena itu, duel Baker dan Teerasak bukan sekadar pertarungan jumlah gol.
Ketepatan membaca ruang, kemampuan memenangkan duel, serta ketenangan ketika mendapatkan peluang akan menjadi bagian penting dalam menentukan siapa yang mampu mengantar negaranya mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026. (*)
Editor : Abdul Rochim