RADARPATI.JAWAPOS.COM - Isu kepindahan penyerang legendaris Karim Benzema ke Persib Bandung dipastikan batal demi hukum dan hanya sebatas spekulasi liar di media sosial.
Meski telah berstatus tanpa klub sejak memutus kerja sama dengan klub Liga Arab Saudi, Al-Hilal, pada 31 Agustus lalu, mantan bintang Real Madrid tersebut terikat kontrak eksklusif sebagai Duta Resmi Saudi Pro League hingga tahun 2030.
Baca Juga: Gaji Benzema Jadi Halangan Utama Untuk ke Persib?
Keterikatan kontrak promosi jangka panjang dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tersebut secara otomatis menutup rapat peluang Benzema untuk melanjutkan karier profesional sebagai pemain di luar wilayah Kerajaan, termasuk bermain di Super League Indonesia bersama Persib.
Aturan dan komitmen sebagai duta ini pula yang sebelumnya menggagalkan skenario sentimental kepindahan peraih Ballon d’Or 2022 tersebut ke klub masa kecilnya, Olympique Lyon, di Liga Prancis.
Artinya, status bebas transfer (free agent) yang melekat pada pemain berusia 38 tahun tersebut tidak serta-merta memberinya keleluasaan memilih klub di luar Arab Saudi.
Gugurnya peluang transfer ini sekaligus menyebur spekulasi yang terlanjur viral di kalangan pendukung Persib, Bobotoh. Rumor tersebut mulanya terantik dari seloroh Deputi CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitya Putra Herawan, saat merespons pertanyaan wartawan terkait pergerakan transfer Maung Bandung.
"Ya, Karim Benzema," ujar Adhitya singkat kala itu.
Baca Juga: Persib Bisa Bertabur Bintang Jika Benzema Berlabuh
Meskipun pihak manajemen telah mengklarifikasi bahwa ucapan tersebut murni sebatas gurauan internal, momentum perpisahan Benzema dengan Al-Hilal yang terjadi secara bersamaan membuat publik menafsirkannya sebagai sinyal transfer yang nyata.
Manajemen Pangeran Biru sendiri menegaskan bahwa mereka tidak pernah melayangkan penawaran resmi, melakukan kontak, maupun mengambil langkah konkret apa pun untuk merekrut striker asal Prancis tersebut.
Narasi kepindahan Benzema ke Kota Kembang murni lahir dari kombinasi kelakar manajemen dan tingginya antusiasme publik sepak bola nasional tanpa didukung dasar faktual. (*)
Editor : Zakarias Fariury