RADARPATI.JAWAPOS.COM - Tekanan besar kini mengiringi langkah pelatih Tim Nasional Indonesia, John Herdman, menjelang bergulirnya ajang FIFA ASEAN Cup 2026 pada 25 September hingga 5 Oktober 2026 mendatang.
Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI), Ignatius Indro, menilai tidak ada alasan lagi bagi juru taktik asal Inggris tersebut untuk gagal membawa Skuad Garuda meraih gelar juara di hadapan publik sendiri.
Baca Juga: Dua Starting XI Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026. Full Diaspora!
Indro menegaskan bahwa kelengkapan komposisi pemain—yang dihiasi kombinasi pilar diaspora dan pemain terbaik kompetisi domestik—serta pengalaman internasional skuad saat ini sudah sangat mumpuni untuk mendominasi kawasan Asia Tenggara.
"Tidak ada alasan lagi. Timnas kita sudah semakin lengkap, pemain-pemain berkualitas tersedia. Sekarang tinggal bagaimana John Herdman meramu kekuatan itu menjadi sebuah tim yang bermain baik, efektif, dan akhirnya juara," tegas Ignatius Indro pada Senin (21/9/2026).
Ajang Penebusan Dosa dan Tolok Ukur Menuju Piala Asia
Bagi PSTI dan para pendukung Timnas, turnamen perdana FIFA di kawasan ASEAN ini merupakan momentum krusial untuk mengobati kekecewaan publik pasca-hasil kurang memuaskan pada ajang Piala AFF (ASEAN Championship) 2026 sebelumnya:
Memaksimalkan Status Tuan Rumah:
Bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), dukungan penuh suporter yang telah mengorbankan waktu, energi, dan biaya harus dibalas dengan gelar juara, bukan sekadar alasan teknis.
Fondasi Menuju Panggung Asia:
Performa dan gelar di FIFA ASEAN Cup dijadikan indikator penting untuk mengukur kesiapan Indonesia menghadapi level persaingan yang lebih tinggi pada Piala Asia 2027 serta Kualifikasi Piala Dunia 2030.
"Kekecewaan di Piala AFF harus diobati dengan prestasi di FIFA ASEAN Cup. Kalau ingin publik percaya kepada proyek Timnas, berikan bukti di lapangan. Jangan hanya bicara ranking, pemain diaspora, atau kualitas individu," lanjut Indro.
Konsekuensi PSSI dan Evaluasi Kepelatihan
Indro secara terbuka menyampaikan bahwa jika Skuad Garuda kembali gagal bertaji meski tampil dengan skuad utama sebagai tuan rumah, wajar apabila tuntutan pergantian pelatih hingga evaluasi kepemimpinan PSSI akan bergulir keras dari masyarakat.
Kendati demikian, ia juga mengingatkan agar pembenahan tidak hanya berhenti pada figur pelatih semata, melainkan mencakup perbaikan sistem kompetisi dan pembinaan usia muda secara berkelanjutan agar masalah serupa tidak terus berulang di masa depan.