RADARPATI.JAWAPOS.COM - Dua raksasa sepak bola Serie A, AC Milan dan Juventus, sama-sama berada dalam pusaran krisis performa mendalam yang mengguncang stabilitas tim pada fase akhir musim.
Penurunan drastis dari dua klub tersukses di Italia ini tidak hanya mengancam ambisi mereka di panggung domestik, tetapi juga memicu gejolak besar di tingkat manajemen serta ketidakpastian proyek jangka panjang klub.
Baca Juga: Ini Pemain Simbol Kebangkitan AS Roma
AC Milan: Kelumpuhan Manajemen dan Penurunan Mentalitas
AC Milan mengalami penurunan paling dramatis setelah sempat bersaing di papan atas. Kekuatan tim asuhan Massimiliano Allegri yang sebelumnya sempat menduduki peringkat kedua klasemen merosot tajam akibat hanya mampu mengemas empat poin dari enam laga liga terakhir.
Legenda sepak bola Italia, Fabio Capello, melontarkan kritik pedas mengenai situasi di San Siro. Ia menilai krisis Rossoneri bukan dipicu kelelahan fisik, melainkan krisis mentalitas, hilangnya determinasi, dan organisasi permainan yang rapuh—mulai dari ketiadaan pressing tinggi hingga sikap acuh tak acuh pemain di lapangan.
Puncak krisis terjadi ketika Milan dipastikan gagal mengamankan tiket Liga Champions 2026/2027. Kegagalan sportivitas tersebut berujung pada tindakan radikal manajemen:
Baca Juga: AS Roma dan Como, Juara Favorit Baru di Serie A
Pembersihan Massal Jajaran Manajemen
Sehari setelah kegagalan lolos ke kompetisi Eropa, pemilik klub memecat secara bersamaan pelatih, direktur olahraga, CEO, hingga direktur teknik.
Kelumpuhan Aktivitas Transfer
Kekosongan struktur kepemimpinan membuat Milan lumpuh di bursa transfer. Rossoneri berisiko besar kehilangan target utama mereka, Leon Goretzka, yang berstatus bebas transfer dari Bayern Munchen akibat ketidakmampuan klub melakukan negosiasi.
Juventus: Krisis Konsistensi dan Bayang-Bayang Tekanan Finansial
Di sisi lain, Juventus turut menunjukkan kurva performa yang tidak kalah mengkhawatirkan. Bianconeri terus berjuang mengatasi ketidakstabilan permainan di lapangan yang membuat mereka kerap kehilangan poin krusial saat menghadapi tim-tim papan tengah dan bawah.
Ketiadaan garis permainan yang jelas serta kerapuhannya lini belakang dalam mengatasi situasi transisi membuat skuad Si Nyonya Tua kesulitan menjaga jarak aman di zona papan atas.
Kondisi ini menempatkan tekanan berat pada jajaran pelatih dan skuad utama, mengingat kegagalan menembus kompetisi tertinggi Eropa akan berdampak fatal bagi restrukturisasi finansial yang sedang dijalankan klub.
Baca Juga: Pertahanan AS Roma Jadi Salah Satu Yang Terbaik di Eropa! Ini Alasannya
Kendati tengah dilanda ketidakstabilan performa, Juventus berupaya memanfaatkan kekacauan di kubu rival. Manajemen Bianconeri bergerak cepat menyusun proposal untuk membajak Leon Goretzka guna memperkuat lini tengah mereka musim depan, memanfaatkan situasi Milan yang tak kunjung memiliki kejelasan manajemen.
Dampak Bagi Peta Sepak Bola Italia
Merosotnya performa Milan dan Juventus di saat bersamaan membuka celah besar bagi rival-rival mereka seperti AS Roma, Inter Milan, dan Como untuk mendominasi papan atas Serie A.
Bagi kedua raksasa tersebut, sisa musim ini bukan lagi sekadar formalitas pertandingan, melainkan ujian eksistensial untuk menyelamatkan nilai olahraga dan finansial klub sebelum memasuki masa transisi yang diperkirakan bakal berjalan lambat dan penuh ketidakpastian. (*)
Editor : Zakarias Fariury