SEMARANG — Stadion Jatidiri kembali menjadi saksi malam yang berat bagi PSIS Semarang.
Di hadapan ribuan pendukungnya sendiri, Mahesa Jenar dipaksa menyerah tanpa balas saat menjamu Kendal Tornado FC dalam laga pamungkas putaran kedua Pegadaian Championship 2025/2026, Jumat (30/1/2026).
Skor akhir 0-3 menutup pertandingan yang sejak awal tak berjalan sesuai rencana tuan rumah.
Alih-alih memanfaatkan dukungan suporter, PSIS justru kehilangan kendali permainan pada saat-saat krusial.
Petaka pertama datang menjelang turun minum. Sebuah tembakan dari Gufroni Al Ma’ruf yang tampak tidak berbahaya justru gagal diamankan kiper PSIS, Mario Londok.
Gol tersebut mengubah atmosfer laga dan menjadi pukulan psikologis bagi tuan rumah.
Situasi semakin rumit di babak kedua. PSIS harus melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain setelah Denilson menerima kartu kuning kedua.
Kondisi ini dimanfaatkan optimal oleh tim tamu yang tampil lebih rapi dan disiplin dalam memanfaatkan ruang.
Akbar Firmansyah memperlebar jarak melalui gol keduanya, sebelum Ibnu Hajar menutup kemenangan Kendal Tornado FC dengan gol ketiga.
PSIS mencoba merespons lewat serangan dari sisi lapangan, namun solidnya pertahanan lawan membuat setiap peluang kandas di sepertiga akhir.
Secara taktik, Kendal Tornado tampil lebih efisien.
Pressing agresif dan distribusi bola langsung ke area pertahanan PSIS membuat lini belakang Mahesa Jenar terus berada dalam tekanan.
Sementara PSIS kerap kehilangan fokus dan gagal menjaga organisasi permainan.
Hingga peluit panjang dibunyikan, PSIS tak mampu mencatatkan satu gol pun.
Kekecewaan pun terlihat jelas di tribun Jatidiri, seiring pupusnya harapan meraih hasil positif di kandang sendiri.
Hasil ini membuat PSIS masih tertahan di zona bawah klasemen, bertengger di peringkat kesembilan atau dua strip dari dasar.
Kekalahan tersebut sekaligus menjadi penutup putaran kedua yang jauh dari ideal bagi Mahesa Jenar.
Pelatih PSIS, Jafri Sastra, tak menampik bahwa performa timnya masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.
Ia menyoroti persoalan disiplin yang kembali menjadi masalah berulang.
“Usaha pemain sebenarnya ada, tapi hasilnya tidak sesuai target. Apalagi dalam dua pertandingan terakhir kami selalu kehilangan pemain karena kartu,” ujarnya.
Menurut Jafri, kondisi tersebut akan menjadi fokus evaluasi utama tim pelatih, selain pembenahan di lini pertahanan dan pengambilan keputusan di lapangan.
“Kami harus berbenah secara menyeluruh. Kalau ingin lebih stabil, disiplin dan konsentrasi harus jadi prioritas,” tegasnya. (mha/him)
Editor : Abdul Rochim