JEPARA - Manajemen Persijap Jepara kembali mendaratkan pemain baru untuk menyiapkan tim yang akan berlaga di kompetisi Liga 1 musim 2025/2026.
Adalah nama Wahyudi Hamisi yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Kehadiran pemain binaan Borneo FC itu akan mempertebal stok pemain di sektor tengah.
Sebelumnya sudah ada pemain-pemain lama di posisi gelandang bertahan ini, yaitu Restu Akbar dan Zahran Alamsyah.
Dua pemain muda yang menjadi bagian dari skuad yang mengantar Persijap Jepara promosi ke Liga 1.
Nama Wahyudi Hamisi mungkin sudah tidak asing di telinga pecinta sepak bola nasional, terutama penggemar Liga 1 Indonesia.
Pemain kelahiran Kotamobagu, 28 Juli 1997 ini dikenal sebagai gelandang bertahan yang tangguh, disiplin, dan pekerja keras.
Di usianya yang baru menginjak 27 tahun, Wahyudi telah menorehkan banyak pengalaman.
Termasuk penampilan bersama Borneo FC dan peran penting di lini tengah PSS Sleman musim lalu.
Wahyudi Hamisi memulai debut profesionalnya bersama Borneo FC pada tahun 2016. Selama tujuh musim membela tim berjuluk Pesut Etam itu.
Kemampuannya dalam menjaga keseimbangan permainan dan membaca situasi di lini tengah membuatnya menjadi aset berharga.
Pada musim 2023/2024, Wahyudi mulai bergabung dengan PSS Sleman. Di musim lalu bersama tim Super Elja, ia tampil dalam 22 pertandingan dengan kontribusi 1 assist dan mengoleksi 7 kartu kuning.
Menariknya, hanya sekitar 38 persen dari total laga ia turun sebagai starter, namun kontribusinya tetap terasa dalam menjaga stabilitas lini tengah.
Sebagai gelandang bertahan, Wahyudi dikenal memiliki daya jelajah luas, keberanian dalam duel-duel fisik, serta ketenangan dalam mengatur ritme permainan.
Ia kerap menjadi pemutus serangan lawan sekaligus inisiator serangan dari lini kedua.
Karakter pekerja keras dan konsisten menjadi nilai lebih yang menjadikan dirinya pilihan utama di beberapa musim terakhir.
Kontroversi
Meski dikenal sebagai pemain yang solid, dikutip dari berbagai sumber, Wahyudi Hamisi juga tak lepas dari kontroversi di lapangan.
Salah satu insiden yang paling disorot terjadi pada 3 Maret 2024 dalam laga antara Persebaya Surabaya dan PSS Sleman.
Dalam pertandingan pekan ke-27 Liga 1 itu, Wahyudi terlibat dalam tindakan brutal saat menendang kepala winger Persebaya, Bruno Moreira, yang saat itu sedang terjatuh di lapangan.
Aksi tersebut menuai protes keras dari kubu Persebaya dan menjadi perbincangan luas di media.
Namun, itu bukan satu-satunya catatan hitam dalam kariernya. Pada 13 Oktober 2018, ia juga pernah melakukan tekel keras terhadap gelandang Persib Bandung saat itu, Robertino Pugliara, yang berakibat fatal.
Tekel tersebut menyebabkan patahnya tulang fibula Pugliara dan memaksa sang pemain asal Argentina gantung sepatu. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab