Banyak alasan bagi setiap pemain untuk tetap stay di satu tim dengan durasi lebih dari setahun-dua tahun.
Seperti yang dirasakan gelandang Persipa Pati M. Rifai Hi Marsi. Pemain ini merasa betah karena orang-orangnya asik.
Achmad Ulil Albab, Pati, Radar Kudus
Wajah mendung menggelayuti pemain yang biasanya murah senyum itu. Saat masuk ke lorong ruang ganti, nampak air mata mulai merembes ke pipinya.
Di depan pintu ruang ganti pemain, pemain asal Ternate itu tak kuasa lagi menahan perasaannya. Sedih bercampur marah menjadi satu.
Pemain bernama lengkap M. Rifai Hi Marsi itu lalu menangis dan berteriak histeris.
Nampak dia sangat menyesali apa yang menimpa tim yang sudah 4 tahun dibelanya itu. Persipa Pati harus terdegradasi ke Liga 3. Setelah tidak mampu bersaing di babak playoff Liga 2.
Kekalahan 0 – 1 atas Persikas Subang pada (21/2) itu telah mengubur harapan Persipa Pati bertahan di Liga 2 musim depan.
Pemain yang masuk usia 25 tahun ini merupakan salah satu pemain yang paling setia berseragam Persipa Pati.
Selain dia ada Fendy Ninggar, sayang di saat pra musim pemain asal Banyumas itu mengalami cidera parah dan harus menepi hingga akhir musim.
Rifai sendiri sudah memperkuat Laskar Saridin sejak di Liga 3 musim 2021, dia menjadi bagian dari skuad juara Liga 3 zona Jawa Tengah. Memulai kompetisi dari paling bawah di zona provinsi.
Di musim yang sama mengantarkan Persipa Pati naik kasta ke Liga 2. Menjadi bagian dari sejarah Persipa naik kelas.
Pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini mengaku sudah betah membela Persipa Pati.
Alasannya sangat simpel. Rifai betah karena suasana tim yang menyenangkan.
“Betah di Persipa itu karena orang-orang di sini asik-asik,” ungkap Rifai.
“Perasaan selama 3 musim di Persipa itu sangat senang, apalagi banyak sejarah yang sudah saya dan teman-teman rasakan di Persipa ini, jadi perasaan sampai saat ini masih sama kalau bermain sepak bola untuk Persipa sangat Bahagia,” imbuh jebolan PPLP Maluku ini.
Meskipun betah dengan suasana di tim Persipa Pati, ternyata Rifai punya masalah soal adaptasi lidahnya.
Pemain yang dominan dengan kaki kanan ini merasa kurang cocok dengan masakan-masakan Pati.
“Ya kalau makanan kesukaan di Pati gak ada e, soalnya kadang lidahnya ga cocok,” sambung Rifai.
Namun hal itu tak jadi masalah baginya. Kecintaannya terhadap karir sepak bola dan Persipa Pati membuatnya tetap enjoy.
“Selam aini saya cukup puas dengan penampilan di Persipa, harapan saya semoga hal-hal baik selalu berpihak untuk tim ini,” kata pemain dengan postur 165 centimeter ini.
Rifai sendiri telah akrab dengan si kulit bundar sejak kecil. Dia mulai bermain sepak bola sejak SD dengan masuk ke SSB di daerahnya.
Bakatnya dalam sepak bola membuat dirinya berhasil masuk ke PPLP Maluku Utara. Sebelum merantau ke Jawa, Rifai pernah memperkuat tim daerahnya yaitu Halmahera FC.
“Ya saya sejak SD sudah belajar di SSB, saya juga lulusan PPLP Maluku Utara,” papar pemain yang mengidolakan Messi dan Iniesta ini.
Di musim ini Rifai tampil cukup baik, meskipun jarang dipercaya tampil sebagai starting XI. Rifai banyak bermain dari bangku cadangan.
Meskipun begitu perannya cukup vital dalam membantu daya serang Laskar Saridin. Pemain ini dikenal sangat ulet dan pantang menyerah.
Di musim ini Rifai juga mengoleksi satu gol penting, saat menumbangkan tuan rumah Persiku Kudus.
Satu gol penentu kemenangan yang akan dikenang dalam perjalanan Persipa Pati dalam episode Derbi Muria, dimana Persipa masih inferior di bawah bayang-bayang keperkasaan Persiku Kudus.
Sayang kemenangan yang ikonik itu tidak berbanding lurus dengan prestasi Persipa Pati musim ini. Karena Persipa harus terdegrasi ke Liga 3.
Editor : Achmad Ulil Albab