REMBANG – Hamparan tambak garam di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, disulap menjadi karya seni berukuran raksasa.
Lukisan garam seluas 1.880 meter persegi itu menarik perhatian ratusan pengunjung, termasuk wisatawan asal Swiss, dalam Festival Garam pada Sabtu (17/10/2026).
Karya tersebut memadukan seni rupa, kehidupan petani garam, dan kekayaan alam pesisir.
Baca Juga: Kekeringan di Rembang Meluas, 24.250 Jiwa Kesulitan Air Bersih
Pertunjukan barongan serta teatrikal seniman turut memeriahkan pembukaan festival yang dihadiri masyarakat lokal hingga pengunjung mancanegara.
Wisatawan asal Swiss, Dominique, mengaku kagum dengan konsep lukisan yang dibuat di hamparan tambak garam.
Menurutnya, karya itu memiliki keunikan karena melibatkan seniman dan petani dalam proses pembuatannya.
“Di sana unik. Menyatukan orang-orang, ada puluhan orang dari seniman dan petani terlibat dalam pembuatan lukisan garam,” ujarnya.
Pembukaan festival dilakukan oleh Asisten I Sekda Rembang Teguh Gunawarman yang mewakili Bupati Rembang Harno.
Sejumlah pejabat daerah dan tamu undangan turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kepala Desa Dasun, Sujarwo, menjelaskan bahwa lukisan garam merupakan hasil kerja kolaboratif yang dipersiapkan dalam waktu panjang.
Pelaksanaan yang semula direncanakan lebih awal mengalami penundaan karena perubahan kelembagaan kementerian. Proposal yang diajukan pada 2025 akhirnya disetujui pada 2026.
Menurut Sujarwo, lukisan garam bukan sekadar karya seni, melainkan bentuk penghormatan terhadap komoditas yang telah menjadi sumber penghidupan masyarakat sejak generasi terdahulu.
Ia ingin mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak memandang garam hanya sebagai bumbu dapur.
Di baliknya terdapat proses panjang, kerja keras petani, serta hubungan erat antara manusia dan alam.
Sujarwo menyebut karya serupa pernah meraih pengakuan melalui Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada 2023 dalam Festival Bancaan Rupa.
Pada 2024, karya mereka juga dipamerkan di Museum Bahari, Jakarta, dalam pameran bertajuk Arthefact bersama peserta dari 11 negara.
Festival Garam 2026 di Dasun mengusung tema Memetri Kawitane Uyah.
Karya terbaru ini meneruskan upaya memperkenalkan nilai budaya dan kehidupan petani garam melalui medium seni rupa.
Kolaborasi seniman dan petani
Kurator Festival Garam Eggy Yunaedi menerangkan, proses penciptaan lukisan dimulai dari perumusan gagasan bersama petani, bukan sekadar pengerjaan visual.
Seniman mendengarkan pengalaman dan persoalan yang dihadapi masyarakat sebelum menentukan konsep karya.
Gagasan awal melibatkan maestro seni lukis Nasirun.
Setelah berdiskusi dengan petani, ia menyusun sketsa yang menempatkan sesaji di bagian tengah sebagai simbol harapan dan rasa syukur.
Komposisi lukisan juga memuat beragam hasil laut, seperti ikan, kepiting, dan cumi-cumi, serta unsur alam seperti plankton dan bakau.
Seluruh elemen itu menggambarkan bahwa kehidupan petani garam dan nelayan bergantung pada ekosistem yang harus dijaga kelestariannya.
Namun, setelah Nasirun meninggal dunia, gagasan tersebut dikembangkan kembali oleh para seniman melalui program residensi.
Sebanyak 10 seniman dari Jakarta, Jatiwangi, Yogyakarta, Pati, Jepara, dan Kediri terlibat dalam proses penciptaan bersama petani Dasun serta pendamping ahli.
Pengerjaan lukisan memanfaatkan 11 petak tambak dengan susunan empat, empat, dan tiga petak.
Area yang digunakan mencapai 1.880 meter persegi dengan kebutuhan garam sekitar 10 ton. Saat proses berlangsung, masih tersisa sekitar 1,5–2 ton garam.
Pembuatan lukisan dimulai pada 14–16 Oktober dan dilanjutkan dengan penyelesaian akhir pada 17 Oktober 2026.
Sebelumnya, tambak dikeringkan selama lima hari. Pengukuran, penghitungan jarak, dan penyusunan sketsa keseluruhan membutuhkan waktu sekitar 10 hari.
Eggy menambahkan, sebagian besar seniman terbiasa mengerjakan karya berukuran besar, seperti mural.
Namun, melukis di hamparan tambak garam menghadirkan tantangan tersendiri karena skala bidang yang luas membuat mereka membutuhkan waktu untuk memahami orientasi gambar sebelum mulai mengerjakan detail. (*)