Rembang Jadi Penghasil Tembakau Terbesar Jateng, Kalahkan Temanggung?

Abdul Rochim • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 20:32 WIB
JEMUR TEMBAKAU: Petani di Sumber, Rembang, mengeringkan tembakau sebelum dikirim ke mitra. (ALI MAHMUDI/RADAR PATI)
JEMUR TEMBAKAU: Petani di Sumber, Rembang, mengeringkan tembakau sebelum dikirim ke mitra. (ALI MAHMUDI/RADAR PATI)

REMBANG – Kabupaten Rembang mencatatkan capaian bersejarah di sektor pertanian. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan (DPP) Jawa Tengah 2025, Rembang menjadi daerah dengan produksi tembakau tertinggi di Jawa Tengah.

Produksi tembakau Rembang mencapai 11.697,66 ton. Angka tersebut mengungguli Kabupaten Temanggung yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra tembakau.

Temanggung mencatat produksi 9.363,85 ton, sedangkan Grobogan berada di posisi ketiga dengan 6.757,82 ton.

Baca Juga: BK DPRD Rembang Konsultasi ke Biro Hukum Jateng, Verifikasi Aduan Belum Tuntas

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang Agus Iwan Haswanto menyebut capaian tersebut menjadi tonggak penting bagi daerah. 

Sebab, Rembang sebelumnya lebih sering berada di bawah Temanggung dalam hal produksi maupun luasan tanaman tembakau.

“Bisa melebihi Temanggung ini tonggak bersejarah. Biasanya kita selalu di bawah, baik produksi maupun luasan,” kata Agus kepada Jawa Pos Radar Kudus, Kamis (25/9).

Menurut Agus, sebelumnya Rembang lebih banyak menggunakan data internal terkait luasan lahan dan produktivitas.

Sementara data yang dirilis DPP Jateng dan mengacu pada BPS menjadi acuan resmi yang dapat digunakan bersama.

Capaian produksi tersebut tidak terlepas dari aktivitas petani serta pendampingan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) dan kemitraan dengan PT Sadhana. Pemkab Rembang juga memberikan dukungan melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, serta pembinaan.

“Untuk data 2026 akan dirilis tahun 2027,” terangnya.

Tingginya produksi tembakau turut berdampak terhadap ekonomi masyarakat desa. Pada musim kemarau, komoditas tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan petani.

Serapan tenaga kerja juga cukup besar karena aktivitas tembakau berlangsung dari tahap tanam, petik, rajang, pengepakan hingga penjualan. Perputaran ekonomi turut dirasakan sektor transportasi dan kegiatan usaha lainnya.

Agus menyebut Rembang juga memperoleh manfaat dari kontribusi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

“Pemanfaatan DBHCHT, Rembang diuntungkan karena mendapat kontribusi lumayan besar,” katanya.

Saat ini proses pembelian tembakau hasil panen masih berlangsung. Dintanpan terus memantau perkembangan harga yang disebut masih berada dalam batas wajar.

“Diperkirakan penyerapan tahun 2026 sampai Oktober-November,” ujarnya.

Terkait nilai perputaran uang dari komoditas tersebut, Dintanpan belum dapat memastikan. Menurut Agus, cuaca panas membantu proses produksi, tetapi keterbatasan air juga dapat memengaruhi kualitas tembakau.

“Nanti rata-rata harga akan dirilis mendekati akhir masa buying,” pungkasnya. (noe/ali)

Editor : Abdul Rochim
tembakau Rembang produksi tembakau Jateng tembakau Temanggung petani tembakau Rembang DBHCHT Rembang