REMBANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Rembang telah menerima hasil pemeriksaan sampel makanan dan muntahan siswa dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Lasem.
Hasil pemeriksaan menemukan kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus pada sampel nasi dan muntahan siswa.
Kepala Dinkes Rembang dr Ali Syofi mengatakan, hasil pemeriksaan dari Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat dan Pengujian Alat Kesehatan (Balai Labkesmas PAK) Provinsi Jawa Tengah telah diterima. Pemeriksaan tersebut meliputi uji bakteriologis dan mikrobiologis.
Sampel yang diperiksa terdiri atas nasi, ayam bakar, tempe mendoan, semangka, lalapan, serta muntahan siswa. Dari tujuh parameter mikrobiologis yang diuji, hanya satu yang menunjukkan hasil positif.
Baca Juga: Hiii...Jijik! Belatung Hidup dalam Lauk MBG di Pati
“Dari sampel makanan, mulai nasi, ayam bakar, tempe mendoan, semangka, dan lalapan serta muntahan, ternyata ada dua material yang mengandung kontaminasi bakteri atau kuman,” kata Ali.
Dua material tersebut adalah sampel nasi dan muntahan. Keduanya sama-sama teridentifikasi mengandung Staphylococcus aureus.
“Bisa disimpulkan, penyebab keracunan (di SMAN 1 Lasem) salah satunya kontaminasi bakteri yang ada di dalam nasi,” terangnya.
Sebelumnya, dugaan kontaminasi mengarah pada nasi dan ayam. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan, sampel ayam tidak ditemukan mengandung kuman atau bakteri.
Ali menjelaskan, Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang secara alami dapat ditemukan pada kulit dan saluran pernapasan manusia.
Namun, apabila masuk ke saluran pencernaan dalam kondisi tertentu, bakteri tersebut dapat menyebabkan gangguan seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut.
Menurutnya, temuan tersebut menjadi evaluasi penting terhadap penerapan standar higienis dan sanitasi dalam penyelenggaraan MBG. Standar tersebut harus diterapkan sejak penerimaan logistik, penyimpanan, pembersihan, pemasakan, pemorsian, hingga pengemasan.
Prosedur serupa juga harus diterapkan saat makanan diantarkan hingga diterima dan dikonsumsi di sekolah.
“Artinya, sebelum anak makan ya cuci tangan pakai sabun dulu dan makanan ditempatkan di tempat semestinya. Cara itulah, Dinkes akan turun membina SPPG, sekolah, dan masyarakat,” imbuhnya.
Sementara terkait SPPG yang memasok MBG ke SMAN 1 Lasem, Dinkes Rembang menyatakan tidak memberikan sanksi berat.
SPPG tersebut akan mendapatkan pembinaan dan diminta menyempurnakan penerapan standar operasional prosedur (SOP).
Ali menilai temuan satu parameter positif dari tujuh parameter yang diperiksa menunjukkan persoalan lebih berkaitan dengan aspek higienis dan sanitasi yang perlu diperbaiki.
“Saya kira tidak sampai kemudian ditutup permanen. Skalanya tidak terlalu besar,” imbuhnya. (noe/lin)
Editor : Abdul Rochim