Abu Vulkanik dan Kesehatan Paru

Editor • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 11:19 WIB
dr. Mulyadi Subarjo, Sp.P
dr. Mulyadi Subarjo, Sp.P

Oleh: dr. Mulyadi Subarjo, Sp.P *)

INDONESIA merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik yang tinggi. Ketika terjadi erupsi, material vulkanik dapat dilepaskan ke atmosfer dan tersebar mengikuti arah angin.

Selain menimbulkan hujan abu, kondisi ini dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan paparan partikel yang terhirup melalui saluran pernapasan.

Dari sudut pandang kesehatan paru, abu vulkanik perlu diperhatikan karena sebagian partikelnya berukuran sangat kecil sehingga dapat terhirup. Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap erupsi maupun setiap orang.

Besarnya risiko dipengaruhi oleh karakteristik abu, konsentrasi partikel di udara, lama dan frekuensi paparan, serta kondisi kesehatan orang yang terpapar.

Mengapa Abu Vulkanik Dapat Mencapai Paru?

Meskipun sama-sama disebut "abu", abu vulkanik berbeda dengan abu hasil pembakaran. Abu vulkanik terbentuk dari fragmentasi magma dan batuan selama erupsi dan dapat tersusun atas fragmen batuan, mineral, serta kaca vulkanik.

Dalam ilmu vulkanologi, material vulkanik berdiameter kurang dari 2 milimeter digolongkan sebagai abu. Namun, dari sisi kesehatan paru, partikel yang jauh lebih kecil justru lebih penting.

Partikel berukuran kurang dari 10 mikrometer dapat menembus lebih jauh ke sistem pernapasan. Sementara itu, fraksi respirabel, sekitar kurang dari 4 mikrometer, mempunyai peluang lebih besar mencapai bagian paru yang lebih dalam.

Partikel yang relatif besar cenderung tertahan di hidung dan saluran napas bagian atas. Partikel yang lebih kecil dapat mencapai trakea, bronkus, bronkiolus, hingga daerah alveolar, tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida berlangsung.

Batas ukuran tersebut bukan batas anatomis mutlak. Tempat partikel mengendap juga dipengaruhi bentuk dan densitas partikel serta pola pernapasan.

Paru sebenarnya mempunyai sistem pertahanan. Pada saluran napas, partikel dapat terperangkap dalam mukus. Kemudian, gerakan silia membawanya ke arah tenggorokan untuk dikeluarkan atau tertelan.

Mekanisme ini dikenal sebagai mucociliary clearance.

Partikel yang mencapai alveoli akan berhadapan dengan makrofag alveolar, yaitu sel pertahanan yang membantu menangkap dan membersihkan partikel asing.

Karena itu, masuknya partikel tidak selalu berarti terjadi kerusakan paru. Respons biologis dipengaruhi oleh jumlah partikel yang terhirup dan sifat fisik-kimianya.

Penelitian menunjukkan bahwa potensi inflamasi dan toksisitas dapat berbeda antara satu jenis abu dengan lainnya. Artinya, abu vulkanik bukanlah satu jenis partikel dengan sifat biologis yang selalu sama.

Apa Dampaknya terhadap Pernapasan?

Pada orang sehat, paparan jangka pendek lebih sering menimbulkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, atau peningkatan dahak.

Pada paparan yang lebih tinggi, sebagian orang dapat mengalami mengi, rasa tidak nyaman di dada, atau sesak napas.

Dampaknya dapat lebih nyata pada orang yang telah memiliki penyakit pernapasan.

Pada asma, saluran napas mengalami inflamasi kronik dan lebih mudah bereaksi terhadap rangsangan. Partikel dan bahan iritan dapat memicu penyempitan saluran napas sehingga batuk, mengi, rasa berat di dada, atau sesak memburuk.

Pada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), tambahan paparan partikel dapat meningkatkan beban iritan pada saluran napas yang sebelumnya telah mengalami perubahan struktural dan inflamasi.

Anak-anak, usia lanjut, serta orang dengan penyakit paru atau jantung juga perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.

Apakah Abu Vulkanik Bisa Menyebabkan Silikosis?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah apakah abu vulkanik dapat menyebabkan silikosis.

Sebagian abu memang dapat mengandung silika kristalin, seperti kristobalit atau kuarsa. Bila silika kristalin dalam ukuran respirabel terhirup dalam jumlah yang cukup dan berlangsung kronik, proses inflamasi yang menetap dapat mendorong fibrosis paru yang mendasari silikosis.

Namun, adanya silika dalam abu tidak berarti setiap orang yang menghirup abu akan mengalami silikosis.

Yang menentukan antara lain kandungan silika kristalin dalam fraksi respirabel dan besarnya paparan kumulatif.

Paparan singkat masyarakat saat hujan abu tidak dapat disamakan dengan paparan debu silika berkadar tinggi selama bertahun-tahun di lingkungan kerja.

Waspadai Gas Vulkanik

Aktivitas vulkanik juga dapat melepaskan gas seperti sulfur dioksida (SO₂), karbon dioksida (CO₂), dan hidrogen sulfida (H₂S).

Mekanismenya berbeda dengan partikel abu.

SO₂ bersifat iritatif dan dapat memicu bronkokonstriksi, terutama pada penderita asma. Pada konsentrasi tinggi, CO₂ dan H₂S juga dapat menimbulkan gangguan serius.

Respirator partikulat seperti N95 dapat mengurangi paparan partikel bila digunakan dengan benar, tetapi tidak dirancang untuk melindungi dari gas vulkanik.

Hujan Abu Berhenti, Paparan Belum Tentu Berakhir

Abu yang telah mengendap di jalan, halaman, atap, atau permukaan lainnya dapat kembali terangkat ke udara akibat angin, kendaraan, maupun aktivitas pembersihan.

Proses ini disebut resuspensi.

Karena itu, berhentinya hujan abu tidak selalu berarti paparan melalui udara langsung berakhir.

Saat membersihkan lingkungan, penyapuan kering yang membuat abu beterbangan sebaiknya dihindari. Abu dapat dibasahi secukupnya sebelum dipindahkan.

Aktivitas fisik berat di lingkungan berabu juga sebaiknya dikurangi. Ketika aktivitas meningkat, volume udara yang dihirup juga meningkat sehingga jumlah partikel yang masuk ke saluran pernapasan dapat bertambah.

Melindungi Paru dengan Mengurangi Paparan

Prinsip perlindungan yang paling penting adalah mengurangi jumlah partikel yang terhirup.

Ketika abu di udara cukup tinggi, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi dan, bila memungkinkan, masyarakat berada di dalam bangunan dengan pintu serta jendela tertutup.

Penderita asma, PPOK, atau penyakit paru kronik perlu lebih berhati-hati dan tetap menggunakan pengobatan rutin sesuai anjuran dokter.

Jika harus berada di lingkungan berabu atau melakukan pembersihan, respirator partikulat seperti N95 yang terpasang rapat pada wajah dapat membantu mengurangi partikel yang terhirup pada orang dewasa.

Kerapatan pada wajah penting karena celah di sekitar masker akan mengurangi efektivitas perlindungannya.

Bagaimana dengan Anak-anak?

Pada anak, pendekatannya perlu lebih hati-hati. Respirator N95 pada umumnya dirancang untuk orang dewasa dan belum tentu sesuai dengan ukuran wajah anak.

Karena itu, perlindungan utama pada anak tetap dengan mengurangi paparan dan aktivitas di luar ruangan.

Bila anak harus keluar, masker dengan kemampuan filtrasi partikel yang baik, berukuran sesuai wajah, terpasang serapat mungkin tanpa celah yang nyata, dan tetap nyaman untuk bernapas dapat digunakan.

Masker bedah yang longgar tidak dapat dianggap memberikan perlindungan terhadap partikel halus setara dengan masker filtrasi yang terpasang rapat.

Perlindungan di Sekolah

Prinsip tersebut penting pula diterapkan di sekolah.

Ketika abu masih banyak di udara, kegiatan luar ruangan seperti olahraga, upacara, dan bermain di lapangan sebaiknya dikurangi atau dihentikan sementara.

Halaman yang tertutup abu juga perlu dibersihkan dengan cara yang tidak membuat partikel kembali beterbangan.

Anak dengan asma atau penyakit pernapasan kronik memerlukan perhatian lebih dan perlu tetap memiliki akses terhadap obat yang biasa digunakan.

Bila kualitas udara atau kondisi erupsi dinyatakan tidak aman, kegiatan sekolah perlu menyesuaikan arahan otoritas setempat.

Penggunaan masker tidak boleh menjadi alasan untuk mempertahankan aktivitas di lingkungan yang tidak aman. Respirator partikulat juga tidak melindungi terhadap gas vulkanik.

Karena itu, informasi mengenai kondisi erupsi, kualitas udara, pembatasan wilayah, maupun evakuasi dari otoritas tetap harus menjadi acuan utama.

Kenali Tanda Bahaya

Batuk, mengi, produksi dahak, atau sesak yang bertambah perlu diperhatikan.

Sesak yang semakin berat, kesulitan berbicara atau beraktivitas karena sesak, penurunan kesadaran, atau keluhan yang tidak membaik setelah menjauh dari paparan memerlukan pertolongan medis.

Abu vulkanik memang dapat memengaruhi kesehatan paru, tetapi risikonya tidak sama pada setiap orang dan setiap erupsi.

Erupsi tidak dapat kita kendalikan, tetapi paparan terhadap sistem pernapasan dapat kita kurangi.

Memahami bagaimana paparan terjadi membantu masyarakat mengambil langkah perlindungan secara tepat—berdasarkan pengetahuan, sesuai tingkat risiko, dan tanpa menimbulkan kepanikan. (*)

*) Penulis adalah Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RSUD dr. R. Soetrasno Rembang. Juga Sekretaris Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jawa Tengah

Editor : Abdul Rochim
abu vulkanik kesehatan paru dampak abu vulkanik erupsi gunung api penyakit pernapasan