REMBANG – Dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Lasem kembali bertambah.
Sebanyak 28 murid memeriksakan diri ke Puskesmas Lasem dengan keluhan sakit perut, mual, muntah, hingga diare. Sembilan di antaranya harus menjalani rawat inap.
Salah seorang korban mengaku menemukan kejanggalan pada lauk ayam bakar yang dibagikan Rabu (2/9).
Ia menyebut tulang ayam mengeluarkan bau tak sedap, sedangkan dagingnya tampak kemerahan.
Baca Juga: Usai Keracunan MBG: Kegiatan Belajar Tetap Berjalan, 209 Siswa SMAN 1 Lasem Rembang Masih Absen
“Tulangnya bau. Daging ayamnya merah-merah. Tapi, tetap saya makan saja, soalnya enak,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus di ruang perawatan UGD Puskesmas Lasem, kemarin.
Ia mengaku menerima MBG sekitar pukul 12.00. Sebelumnya, ia sudah sarapan di rumah dan tidak jajan saat istirahat pertama.
Setelah menyantap makanan, ia mulai merasakan sakit perut. Gejala kemudian berlanjut menjadi lemas, pusing, mual, hingga muntah.
Kepala Puskesmas Lasem dr Joko Paryanto membenarkan adanya tambahan 28 pasien dari SMAN 1 Lasem.
Sembilan pasien menjalani rawat inap dengan keluhan diare, mual, muntah, nyeri perut, dan pusing. Kondisi mereka berangsur membaik.
“Beberapa anak masih perlu pemulihan terlebih dulu. Karena belum mau makan,” terangnya.
Sementara itu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan, Lasem, yang mendistribusikan MBG ke SMAN 1 Lasem, untuk sementara dihentikan operasionalnya atau suspend.
Pantauan Jawa Pos Radar Kudus kemarin menunjukkan tidak ada aktivitas memasak di dapur SPPG Soditan.
Kepala SPPG Soditan Achmad Sholeh Syariffudin mengatakan menu sebelum didistribusikan telah melalui pemeriksaan organoleptik menggunakan pancaindra.
“Lalu kami antar ke SMAN 1 Lasem. PIC sekolah juga mencicipi dan organoleptik sudah ditulis nilainya bagus,” katanya.
Achmad menyebut belum ada laporan serupa dari penerima manfaat lain.
Saat ini, sampel menu MBG pada Rabu (2/9), meliputi nasi, ayam bakar, lalapan, sambal teri, mendoan, dan semangka, telah dikirim untuk pemeriksaan laboratorium. Hasil pengujian diperkirakan keluar dalam 14 hari.
SPPG Soditan juga telah menerima keputusan dari BGN terkait penghentian sementara operasional.
Selama suspend, penerima manfaat dapat dialihkan ke SPPG terdekat dengan data penerima dikirim sekolah secara by name.
SPPG Soditan mulai beroperasi pada 8 Desember 2025 dan melayani 1.914 penerima manfaat.
Di antaranya PAUD Intan Permata Soditan, sejumlah TK dan KB, MTs An Nurriyah Lasem, B3 Desa Soditan, serta SMAN 1 Lasem yang menjadi penerima manfaat terbanyak. (noe/lin)
Editor : Abdul Rochim