REMBANG – SMK Al-Mubaarok Rembang terus memperkuat kemitraan dengan dunia industri luar negeri. Upaya tersebut dilakukan untuk membuka peluang lebih luas bagi lulusan agar mampu bersaing di dunia kerja, termasuk kesempatan bekerja di Jepang.
Komitmen itu ditunjukkan melalui kunjungan Direktur Penyalur Tenaga Kerja dari Jepang, Furumi Yasuke, ke SMK Al-Mubaarok Rembang. Ia datang bersama LPK Hikari Putra Mandiri, Desa Babadan, Kecamatan Kaliori.
Kunjungan tersebut memberikan gambaran peluang kerja bagi lulusan SMK Al-Mubaarok di sejumlah perusahaan Jepang.
Baca Juga: Tampilkan Pentas Ketoprak, SMKN 1 Sumber Rembang Resmikan Sanggar Widya Budaya
Furumi juga menyapa sekitar 340 peserta didik kelas X hingga XII di aula lantai II gedung sekolah yang berada di Jalan Nasional Rembang-Blora KM 4, Torejo-Mondoteko, Rembang.
Kedatangannya didampingi Muhaimin dari LPK Hikari Putra Mandiri. Mereka disambut Ketua Yayasan Zarkasyi Al-Mubaarok Nuril Haq Saifullah, kepala sekolah, serta jajaran guru.
Furumi merupakan mitra perusahaan penerima tenaga kerja di Tokyo, Jepang. Ia disebut telah menyalurkan sekitar 300 tenaga kerja asal Indonesia ke berbagai perusahaan di Jepang.
Kunjungan tersebut disambut antusias para siswa. Salah satunya Fahmi yang menanyakan waktu yang dibutuhkan untuk menguasai bahasa Jepang.
“Kira-kira kalau mau ke Jepang, untuk belajar bahasa, butuh waktu berapa lama, Pak?” tanyanya.
Muhaimin yang sekaligus menjadi penerjemah menjelaskan bahwa lama belajar bahasa Jepang bergantung pada kemampuan dan keseriusan masing-masing peserta. Rata-rata, peserta membutuhkan waktu sekitar enam bulan.
“Ada yang bisa diajak cepat, ada yang tidak. Rata-rata anak berproses belajar setengah tahun. Kalau anak punya motivasi yang kuat, bisa saja empat bulan,” tuturnya.
Pertanyaan lain disampaikan Ali Isnan mengenai biaya yang harus dipersiapkan untuk bekerja di Jepang.
“Berapa biaya yang diperlukan kalau mau kerja ke Jepang?” tanyanya.
Muhaimin menjelaskan, LPK Hikari Putra Mandiri memiliki tiga program pelatihan bahasa dan pemberangkatan tenaga kerja ke Jepang.
Bagi peserta yang memiliki keinginan kuat tetapi terkendala biaya, LPK juga menyediakan skema dana talangan. Peserta tetap harus mengikuti berbagai tahapan seleksi, mulai dari tes kesehatan, matematika, fisik, psikotes hingga wawancara.
“Ada rentang A, B dan C. Pertama, khusus anak yang tidak punya biaya, bisa kita talangi. Modalnya hanya tes kesehatan (medical). Tentu tetap melewati seleksi tes Matematika, fisik, psikotes dan tes wawancara,” terangnya.
Untuk biaya pelatihan bahasa, peserta dikenakan sekitar Rp 7,5 juta dan sudah termasuk fasilitas asrama. Sementara biaya keberangkatan ke Jepang sekitar Rp 35 juta.
“Bisa bayar sendiri atau bisa menggunakan skema dana talangan. Kalau dana talangan, nanti saat sudah bekerja di Jepang, baru mengganti. Soal gaji tinggi di Jepang, anggap saja sebagai bonus, ketika bekerja di luar negeri,” kata Muhaimin.
Usai dari Rembang, Furumi Yasuke melanjutkan kunjungan ke LPK Hikari Putra Mandiri, SMK Bakti Utama Pati, Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus, serta sejumlah lokasi di Semarang.
Bahasa Jepang Jadi Pembelajaran Khusus
Ketua Yayasan Zarkasyi Al-Mubaarok Nuril Haq Saifullah mengatakan, sejak 2026 sekolah menerapkan lima hari kerja.
Jika sebelumnya Sabtu digunakan untuk mata pelajaran umum, kini waktu tersebut dimanfaatkan khusus untuk pembelajaran bahasa Jepang.
Pembelajaran dilakukan secara bergilir untuk seluruh kelas. Kelas X mendapatkan jadwal pada pekan pertama, kelas XI pada pekan kedua, dan kelas XII pada pekan ketiga. Pola tersebut kemudian terus dirotasi.
“Bergilir semua kelas. Minggu pertama kelas X, minggu kedua kelas XI dan minggu ketiga kelas XII, secara kontinyu akan dilakukan rolling,” katanya, Senin (31/8).
Pembelajaran bahasa Jepang tersebut dilakukan bekerja sama dengan LPK Hikari Putra Mandiri. Setelah siswa menguasai bahasa Jepang, mereka diharapkan dapat mengikuti proses penyaluran kerja ke Jepang.
“Kemampuan, kedisiplinan sudah dari KBM di sekolah. Tinggal bahasa. Nanti pekerjaan apa tergantung anak,” terangnya.
Nuril menambahkan, antusiasme siswa maupun orang tua/wali murid terhadap program tersebut cukup tinggi.
Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu jalan bagi lulusan untuk mendapatkan pekerjaan sekaligus membantu meningkatkan perekonomian keluarga.
“Kalau nanti di sekolah ternyata bahasa Jepang masih kurang dan sudah lulus, bisa dilanjutkan ke LPK. Tentu bagi yang benar-benar minat serta didukung orang tua,” imbuhnya.
Target Sertifikasi Bahasa Jepang
Waka Humas SMK Al-Mubaarok Agung Wahyu Setiyanto mengatakan, sekolah juga menyiapkan kelas industri Jepang. Pada kelas X dan XI, siswa mendapatkan pengenalan, sedangkan kelas XII diarahkan untuk lebih fokus.
Targetnya, siswa yang mengikuti program tersebut dapat memiliki sertifikasi N5 sebagai salah satu nilai tambah untuk melanjutkan kerja atau magang di Jepang.
“Untuk yang berminat kita kelompokkan dan tempatkan satu komunitas kelas industri Jepang SMK Al-Mubaarok. Harapannya anak belum lulus, ketika progres bagus data dikirim dan mulai rekrut kerja,” jelasnya.
Namun, proses pemberangkatan tetap menyesuaikan persyaratan yang berlaku. Salah satunya batas usia minimal 18 tahun.
“Jadi sambil menunggu lulus, karena salah satu syarat minimal 18 tahun,” tandasnya. (noe)
Editor : Abdul Rochim