REMBANG – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Rembang mengumpulkan seluruh guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) untuk mengikuti pembinaan.
Kegiatan tersebut difokuskan pada penguatan kesadaran hukum serta keselamatan peserta didik selama pembelajaran olahraga.
Pembinaan digelar selama tiga hari dan menyasar guru PJOK jenjang SD dan SMP.
Kegiatan menghadirkan KBO Satreskrim Polres Rembang Iptu Widodo Eko Prasetiyo sebagai narasumber untuk memberikan pemahaman dari sisi hukum serta potensi risiko dalam kegiatan pembelajaran PJOK.
Baca Juga: Siswi SMPN 2 Rembang Diduga Meninggal akibat Lemah Jantung, Dindikpora Kumpulkan Guru PJOK
Kegiatan tersebut salah satunya merupakan tindak lanjut dari peristiwa meninggalnya siswi SMPN 2 Rembang setelah mengikuti kegiatan olahraga di sekolah.
Sebelumnya, Polres Rembang menyampaikan informasi awal bahwa siswi tersebut diduga memiliki kondisi lemah jantung.
Sejumlah pihak kemudian dimintai klarifikasi untuk mengungkap peristiwa tersebut secara lebih terang.
Siswi kelas VII.1 bernama Cantika Dhia Syarafana itu sebelumnya mengikuti tes PJOK. Dalam kegiatan tersebut, siswa menjalani sejumlah tes jasmani, salah satunya lari bolak-balik sejauh sekitar 10 meter.
Guru PJOK kelas VII, Agung Sarwono, sebelumnya menjelaskan bahwa Cantika mendapat giliran terakhir.
Saat menjalani tes, kakinya tersandung hingga terjatuh dan bagian kepala membentur paving. Siswi tersebut kemudian dilarikan ke RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, namun nyawanya tidak tertolong.
Kepala Dindikpora Rembang Achmad Sholchan mengatakan, pembinaan dilakukan untuk menyamakan pemahaman seluruh guru PJOK terkait keselamatan peserta didik.
Menurutnya, langkah antisipasi perlu dilakukan sejak awal, tanpa harus menunggu terjadinya musibah.
“Pembinaan tiga hari. Kemarin di Kecamatan Sumber khusus Rembang barat. Hari Rabu (19/8) di Lasem khusus Rembang timur. Lalu Kamis pagi di kantor Dindikpora khusus untuk SMP,” kata Sholchan kepada Jawa Pos Radar Kudus, kemarin (19/8).
Sholchan tidak menampik kegiatan tersebut menjadi salah satu tindak lanjut atas kejadian di SMPN 2 Rembang.
Namun, menurut dia, pembinaan semacam itu tetap penting dilakukan meskipun tidak ada kejadian serupa.
“Pemahaman guru PJOK bervariasi. Didukung adanya kejadian kemarin, kami merasakan ini menjadi sesuatu hal yang penting dilaksanakan,” tegasnya.
Dia menjelaskan, guru PJOK memiliki risiko lebih besar dibandingkan guru mata pelajaran lainnya karena kegiatan pembelajaran banyak dilakukan melalui praktik dan aktivitas fisik di lapangan.
Karena itu, berbagai potensi risiko harus dipahami dan diantisipasi.
Sebelum pembelajaran dimulai, guru PJOK diminta mengetahui kondisi peserta didik.
Guru dapat menanyakan apakah ada siswa yang sedang sakit atau memiliki keluhan tertentu.
Jika diperlukan, pemeriksaan kondisi fisik juga dapat dilakukan, selain memastikan tempat olahraga dalam kondisi aman dan layak digunakan.
“Output atau tujuan pembinaan guru PJOK, murid sehat dan guru aman,” harap Sholchan.
Guru PJOK SD Banowan, Kecamatan Sarang, Lela Ayu Rinanti, menyambut positif pembinaan tersebut.
Menurutnya, materi mitigasi keselamatan siswa sangat dibutuhkan guru PJOK untuk meningkatkan keamanan selama proses pembelajaran.
“Sangat besar sekali risiko kita sebagai guru PJOK. Kegiatan kali ini sangat baik sekali dilaksanakan untuk guru PJOK se-Kabupaten Rembang,” ujarnya.
Dia menambahkan, penerapan standar operasional prosedur (SOP) menjadi bagian penting dalam pembelajaran PJOK.
Guru harus memastikan kondisi siswa sebelum kegiatan, termasuk melakukan absensi dan menanyakan apakah ada yang sedang sakit. Pemanasan juga menjadi tahapan penting sebelum aktivitas fisik.
Untuk jenjang SD, kegiatan PJOK lebih banyak dikemas dalam bentuk permainan. Sementara pemeriksaan kesehatan siswa dilakukan melalui kerja sama dengan petugas kesehatan dari puskesmas.
“Kalau di sekolah mengukur tensi belum ada. Untuk mengukur tinggi dan berat badan kita setiap bulan. Untuk screening kesehatan kerja sama dengan petugas kesehatan di puskesmas, kebetulan ada Cek Kesehatan Gratis (CKG),” imbuhnya.
Guru PJOK di Kecamatan Lasem, Bambang Sentosa, menilai pembinaan tersebut menambah wawasan guru dalam menangani berbagai kondisi yang mungkin terjadi selama pembelajaran olahraga.
“Materi yang disampaikan cenderung bagaimana menangani siswa dalam kejadian-kejadian pembelajaran. Misalnya jika ada kejadian yang tidak diinginkan, benturan atau lain,” pungkasnya. (noe)