Rembang Masih Kekurangan 219 Pustu dan 171 Perawat, Pemkab Usulkan Tambahan Tenaga Kesehatan

Wisnu Aji • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 18:28 WIB

SINERGI: Bupati Rembang, Harno didampingi Ketua TP PKK, Musringah Harno, Asisten II dan III serta Kepala Dinkes saat memberi arahan penggalakan bersama lintas sektor penguatan inovasi Telponi. (WISNU AJI/RADAR PATI)
SINERGI: Bupati Rembang, Harno didampingi Ketua TP PKK, Musringah Harno, Asisten II dan III serta Kepala Dinkes saat memberi arahan penggalakan bersama lintas sektor penguatan inovasi Telponi. (WISNU AJI/RADAR PATI)

 

REMBANG – Pemerintah Kabupaten Rembang masih menghadapi kekurangan fasilitas dan tenaga kesehatan.

Sedikitnya dibutuhkan 219 Puskesmas Pembantu (Pustu) serta 171 tenaga perawat untuk mendukung pemerataan layanan kesehatan hingga tingkat desa.

Persoalan tersebut mengemuka dalam kegiatan penggalangan komitmen lintas sektor penguatan inovasi Telponi (Temokno, Laporno, Openi) yang digelar di salah satu hotel di jalur Pantura, Rembang.

Program tersebut bertujuan memperkuat upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

Baca Juga: Rembang City Run 2026 Diikuti 3.700 Pelari, Gaungkan Semangat Antikorupsi dan Dongkrak Ekonomi Warga

Bupati Rembang Harno mengatakan, penurunan AKI dan AKB menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Berdasarkan data 2025, angka kematian ibu tercatat lima kasus dan angka kematian bayi sebanyak 96 kasus, yang disebut sebagai capaian terendah sepanjang sejarah Kabupaten Rembang.

"Alhamdulillah, AKI ada lima kasus dan AKB 96 kasus. Ini menjadi angka terendah sepanjang sejarah Kabupaten Rembang," ujarnya.

Meski demikian, Harno mengakui masih banyak pekerjaan rumah di sektor kesehatan, terutama belum meratanya keberadaan Pustu di setiap desa.

"Saya sudah menanyakan kepada Kepala Dinas Kesehatan apakah setiap desa sudah memiliki Pustu. Ternyata belum 100 persen. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah agar seluruh desa memiliki Pustu," katanya.

Selain kekurangan Pustu, Kabupaten Rembang juga masih membutuhkan tambahan tenaga dokter dan perawat.

Pemkab telah mengusulkan kebutuhan tersebut kepada pemerintah pusat agar dapat dipenuhi melalui formasi aparatur sipil negara maupun mekanisme lain yang tersedia.

Menurut Harno, pemenuhan tenaga kesehatan juga dapat dilakukan oleh puskesmas dan rumah sakit yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), sembari menunggu pembukaan formasi CPNS maupun PPPK.

Kepala Dinas Kesehatan Rembang dr Ali Syofi'i menjelaskan, saat ini Kabupaten Rembang memiliki 69 Pustu.

Pada 2025 pemerintah menambah enam unit Pustu, namun jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal sesuai program Integrasi Layanan Primer (ILP) yang menargetkan satu desa memiliki satu Pustu.

"Saat ini ada 69 Pustu ditambah enam yang dibangun pada 2025. Artinya masih kurang sekitar 219 Pustu," jelasnya.

Ia mengatakan, setiap Pustu nantinya akan diisi satu bidan, satu perawat, serta didukung kader kesehatan.

Karena hampir seluruh desa telah memiliki bidan, kebutuhan terbesar saat ini adalah tenaga perawat.

"Hasil perhitungan kami masih membutuhkan sekitar 171 perawat. Kebutuhan formasi tersebut sudah kami sampaikan kepada pemerintah pusat melalui BKD dan KemenPAN-RB. Selanjutnya menunggu kebijakan pemerintah pusat," ujarnya.

Ali menambahkan, inovasi Telponi menjadi salah satu strategi utama dalam menekan AKI dan AKB. Melalui sistem tersebut, kader kesehatan, bidan desa, petugas puskesmas, hingga dokter spesialis saling terhubung untuk memantau ibu hamil berisiko tinggi secara rutin.

Dokter spesialis kandungan, anak, hingga penyakit dalam dari berbagai rumah sakit di Rembang juga dilibatkan sebagai pembina wilayah di masing-masing puskesmas sehingga proses pendampingan dan rujukan dapat dilakukan lebih cepat.(noe)

 
 
 
Editor : Abdul Rochim
Pustu Rembang tenaga kesehatan Rembang Dinas Kesehatan Rembang rembang