REMBANG – Bupati Rembang Harno turun langsung menyalurkan bantuan bagi korban kebakaran rumah di sejumlah wilayah Kabupaten Rembang.
Bantuan diberikan berupa sembako, perlengkapan darurat, hingga stimulan uang tunai sebesar Rp10 juta untuk masing-masing korban.
Penyaluran bantuan dilakukan di beberapa lokasi, di antaranya Desa Balongmulyo Kecamatan Kragan, Meteseh Kecamatan Kaliori, dan Pragen Kecamatan Pamotan.
Kunjungan terakhir dilakukan pada Jumat (19/6/2026) sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap warga terdampak bencana kebakaran.
Baca Juga: Pasarbanggi di Rembang Kembali Diusulkan Jadi Kampung Nelayan Merah Putih
Dalam kegiatan tersebut, Bupati didampingi oleh jajaran BPBD, Dinsos PPKB, camat, Baznas Kabupaten Rembang, pemerintah desa, PMI, serta para relawan.
Bantuan disalurkan kepada korban rumah yang mengalami kerusakan berat hingga habis terbakar.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, mengatakan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Pemkab Rembang kepada masyarakat yang terdampak bencana kebakaran.
Bantuan stimulan berasal dari Baznas dan bagian Kesra.
“Bentuk kepedulian Pak Bupati Rembang kepada masyarakat. Kami sudah berkoordinasi dengan Baznas, Dinsos, PMI, dan BPBD,” ujarnya.
Selain bantuan uang tunai, pemerintah juga menyalurkan bantuan logistik berupa sembako, tempat tidur sementara, pakaian, serta kebutuhan dasar lainnya melalui BPBD dan Dinsos.
Luthfi menjelaskan, sebagian besar kebakaran rumah dipicu korsleting listrik.
Ia mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam penggunaan instalasi listrik, seperti tidak menumpuk steker dan rutin memeriksa kondisi kabel.
Selain itu, pada musim kemarau masyarakat juga diingatkan agar tidak sembarangan membakar sampah karena dapat memicu kebakaran, seperti salah satu kasus yang terjadi akibat api pembakaran yang tidak diawasi.
Dari tiga kasus kebakaran yang ditangani, seluruh rumah korban dilaporkan mengalami kerusakan berat atau habis terbakar.
Kehadiran Bupati di lokasi diharapkan dapat memberikan dukungan moral sekaligus mempercepat proses pemulihan dan pembangunan kembali rumah warga.
Luthfi juga menyoroti keterbatasan armada pemadam kebakaran di Kabupaten Rembang.
Dari lima unit mobil damkar yang dimiliki, hanya satu unit yang berusia di bawah lima tahun, sementara empat lainnya sudah berusia lebih dari 10 tahun.
Kondisi ini turut memengaruhi operasional di lapangan.
Meski demikian, petugas Damkar tetap siaga merespons setiap laporan masyarakat melalui layanan call center.
Pemerintah daerah juga menerima masukan terkait kebutuhan penambahan unit Damkar di tiap kecamatan untuk mempercepat penanganan kebakaran di masa mendatang. (noe)