RADAR PATI - BAU obat-obatan dan suara hewan peliharaan sudah menjadi bagian dari keseharian Bilqis Mayla Hardianti sejak kecil.
Tak heran jika kecintaannya terhadap dunia fauna tumbuh begitu kuat hingga mengantarkannya menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB).
Dara kelahiran Rembang, 21 Mei 2007 itu mengaku pilihannya menempuh pendidikan dokter hewan tak lepas dari sosok sang ibu, Erdyanti, yang juga berprofesi sebagai dokter hewan di Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang.
Tumbuh di Desa Kedungrejo, Kecamatan Rembang, Bilqis sering menyaksikan langsung bagaimana ibunya menangani berbagai jenis hewan yang sakit.
Baca Juga: WADUH! Saluran IPAL Pabrik Kulit Jebol, Sungai Krinjo di Rembang Tercemar
Dari pengalaman itulah muncul kekaguman sekaligus keinginan untuk mengikuti jejak sang ibu.
“Mama menjadi motivasi terbesar saya. Dari beliau saya tahu bagaimana prospek kerja dokter hewan dan pentingnya profesi ini bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Bilqis, kebutuhan dokter hewan di Kabupaten Rembang masih cukup tinggi.
Di tengah banyaknya peternakan sapi dan meningkatnya jumlah hewan peliharaan, jumlah tenaga dokter hewan masih tergolong terbatas.
“Pet shop ada, tapi dokter hewannya masih minim. Itu yang membuat saya semakin yakin memilih Fakultas Kedokteran Hewan,” katanya.
Meski dikenal sebagai jurusan yang tidak mudah, Bilqis mengaku tidak gentar.
Bekal pengetahuan dan motivasi dari sang ibu membuatnya optimistis menjalani perkuliahan.
Di kampus, mahasiswa FKH memiliki kesempatan memperdalam minat melalui berbagai Himpunan Minat dan Profesi (Himpro). Mulai dari bidang hewan kesayangan, satwa akuatik eksotik, satwa liar, ruminansia hingga unggas.
Saat memasuki semester tiga nanti, Bilqis berencana memilih bidang hewan kesayangan.
Alasannya sederhana, peluang pengembangan layanan kesehatan hewan peliharaan di daerah asalnya masih terbuka lebar.
“Kalau fokus di hewan kesayangan, nantinya bisa membuka klinik sendiri karena kebutuhannya di Rembang masih cukup besar,” ungkapnya.
Kecintaannya terhadap dunia hewan juga terlihat saat momentum Idul Adha 2026. Bersama sang ibu, Bilqis ikut terjun langsung membantu pemantauan kesehatan hewan kurban di wilayah Kecamatan Kaliori dan Sumber.
Di tengah keramaian warga yang menyaksikan proses penyembelihan, Bilqis tampak sigap membantu pemeriksaan organ dalam hewan seperti hati, paru-paru, dan jantung.
Pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan tidak ada cacing maupun penyakit yang dapat membahayakan penerima daging kurban.
Pengalaman itu menjadi salah satu momen berharga baginya.
Selain dapat belajar langsung di lapangan, ia juga bisa mengenal anatomi hewan secara lebih mendalam.
“Yang paling saya sukai bisa melihat anatomi hewan secara langsung. Selain itu juga seru karena bisa berinteraksi dengan masyarakat,” tuturnya.
Bagi Bilqis, menjadi dokter hewan bukan sekadar profesi. Lebih dari itu, profesi tersebut adalah bentuk pengabdian sekaligus cara meneruskan semangat yang diwariskan sang ibu.
Dengan tekad kuat dan kecintaannya pada dunia fauna, ia berharap kelak dapat ikut memenuhi kebutuhan layanan kesehatan hewan di Kabupaten Rembang. (noe/him)