Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Isu Kenaikan BBM, Warga Rembang Pilih Bertahan hingga Opsi Oplos demi Hemat Pengeluaran

Abdul Rochim • Rabu, 1 April 2026 | 12:49 WIB
Pengguna sepeda motor antre mengisi BBM di SPBU di Kudus, tadi siang. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)
Pengguna sepeda motor antre mengisi BBM di SPBU di Kudus, tadi siang. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)

REMBANG – Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) memunculkan beragam respons dari masyarakat. 

Sebagian memilih pasrah mengikuti kebijakan pemerintah, sementara lainnya mulai menyiapkan strategi penghematan, termasuk opsi mencampur bahan bakar (oplos) untuk menekan pengeluaran.

Muhammad, warga Desa Kasreman, Kecamatan Rembang, mengaku masih memantau kepastian kabar kenaikan BBM melalui pemberitaan resmi karena banyak informasi yang beredar di media sosial belum tentu benar.

Baca Juga: Bupati Rembang Tinjau KJB dan Taman Kartini, Tekankan Soal Harga Tiket

”Belum mengetahui adanya kepastian kenaikan harga BBM. Bersliweran lewat medsos. Saya pribadi memilih update lewat berita memastikan hoax atau sebaliknya," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kudus, kemarin (31/3).

Muhammad mengatakan sejak awal membeli motor matic, dirinya terbiasa menggunakan BBM non subsidi jenis Pertamax.

Selain mempertimbangkan performa kendaraan, ia juga memperhitungkan biaya perawatan mesin agar tidak membengkak.

”Tetap Pertamax, sudah terbiasa dari awal beli motor hingga sekarang,” sambungnya.

Ia menilai penggunaan BBM beroktan tinggi dinilai lebih aman bagi mesin.

Namun, jika harga BBM mengalami kenaikan, dirinya mempertimbangkan opsi mencampur bahan bakar dalam kondisi tertentu.

”Kalau sama sama naik tetap pakai Pertamax. Jika yang naik hanya jenis non subsidi opsional di oplos sesekali waktu," kiatnya.

Sebagai karyawan swasta dengan gaji setara UMR, Muhammad mengaku harus pandai mengatur keuangan, terlebih kebutuhan meningkat setelah Lebaran.

Ia menilai penggunaan BBM yang sesuai spesifikasi kendaraan juga dapat menekan biaya servis.

"Jadi kembali lagi ada plus dan minusnya," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Huda yang mengaku hanya bisa mengikuti kebijakan apabila kenaikan harga BBM benar-benar diterapkan.

Ia mengaku cukup kesulitan mengurangi konsumsi BBM karena jarak rumah dan tempat kerja cukup jauh.

"Mau gimana lagi kalau ada kenaikan tetap mengikuti. Karena sudah menjadi kebutuhan wajib," ungkapnya.

Huda juga memilih tetap menggunakan Pertamax karena dinilai sesuai dengan kebutuhan kendaraannya.

Ia khawatir penggunaan BBM dengan kualitas berbeda dapat memengaruhi performa mesin.

”Khawatir ada penurunan akselerasi kendaraan. Ketemunya service. Untuk perjalanan lebih enak memakai Pertamax. Kalau saya sepekan biasanya beli 70 ribu untuk motor matic saja,” pungkasnya. (noe)

 

Editor : Abdul Rochim
#isu kenaikan BBM 2026 #warga Rembang Pertamax #oplos BBM hemat biaya #dampak harga BBM naik #strategi hemat bahan bakar