Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Mooncake Festival di Rembang: Kue Bulan, Identitas Tionghoa, dan Perebutan Ruang Budaya

Alfian Dani • Kamis, 2 Oktober 2025 | 07:54 WIB
IKONIK: Aneka lampu lampion dan stand berdiri untuk menyemarakan mooncake festival di Kabupaten Rembang, kemarin.(WISNU AJI/RADAR PATI)
IKONIK: Aneka lampu lampion dan stand berdiri untuk menyemarakan mooncake festival di Kabupaten Rembang, kemarin.(WISNU AJI/RADAR PATI)

REMBANG – Perayaan Mooncake Festival di Klenteng Hok Tik Bio Rembang bukan sekadar pesta kuliner.

Di balik dentuman barongsai dan manisnya kue bulan, tersimpan upaya serius komunitas Tionghoa untuk membuka ruang budaya yang selama ini kerap disalahpahami publik.

Selama empat hari, 1–4 Oktober 2025, halaman Klenteng Hok Tik Bio disulap jadi arena festival.

Muda-mudi Dwi Kumala Rembang menghadirkan barongsai, tari orek-orek khas lokal, hingga bazar UMKM dengan 22 stan kuliner.

Dari sushi, pempek, bakso jumbo, hingga kue bulan isi kacang hijau dan keju—semuanya tersaji dalam satu ruang, seolah menegaskan bahwa identitas budaya tak lagi bisa dipagari sekat etnis.

Ketua Panitia, Habibi, menegaskan festival ini bukan hanya untuk ulang tahun ke-170 klenteng, melainkan juga edukasi.

“Kami ingin kue bulan dikenal semua kalangan, bukan hanya komunitas Tionghoa,” ujarnya.

Namun di balik kemeriahan, ada tantangan yang lebih pelik: persepsi masyarakat.

Ketua Umum Yayasan Dwi Kumala, Budi Karuna Sutikno, secara terbuka mengakui masih ada stigma terhadap klenteng.

“Kami ingin mengubah persepsi agar masyarakat tak ragu datang. Klenteng ini terbuka untuk semua,” ucapnya.

Fakta ini memperlihatkan bahwa Mooncake Festival tak sekadar soal makanan tradisional, tapi juga strategi kebudayaan.

Di tengah derasnya arus globalisasi, klenteng dan festival sejenis diposisikan ulang: dari simbol eksklusivitas etnis, menjadi ruang publik lintas identitas.

Pertanyaannya, apakah keterbukaan ini cukup untuk melawan prasangka lama? Atau festival hanya akan jadi kemeriahan tahunan yang berhenti di permukaan tanpa benar-benar mengikis jarak sosial?

Editor : Alfian Dani
#identitas budaya #Klenteng Hok Tik Bio #rembang #Mooncake Festival #Mooncake Festival 2025 #ruang publik #Multikultural #Budaya Tionghoa