Tak Hanya Ramah Lingkungan, Inovasi Juga Jadi Media Kreativitas Siswa
REMBANG – Kabupaten Rembang patut berbangga. Sebanyak 24 sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK resmi menyandang predikat Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah 2025.
Salah satunya, SMPN 2 Lasem, tampil menonjol dengan inovasi teknologi sederhana nan ramah lingkungan: alat penyiraman otomatis bertenaga surya dan cap batik kreatif dari bahan bekas.
Predikat ini tertuang dalam Keputusan Gubernur Jateng Nomor 100.3.3.1/187 Tahun 2025 yang diteken Gubernur Ahmad Luthfi pada 2 Juli lalu.
Bagi SMPN 2 Lasem, pencapaian ini adalah buah dari persiapan panjang sejak September 2024.
Penyiraman Otomatis: Hemat Energi, Efektif di Cuaca Terik
Ketua Tim Adiwiyata SMPN 2 Lasem, Bambang Heru Sudarto, mengungkapkan alat penyiraman otomatis dirancang untuk bekerja maksimal saat matahari terik.
“Panel solar cell menggerakkan pompa air dengan bantuan aki sebagai penstabil daya. Pompa akuarium sederhana ini mampu menyiram taman sekolah secara otomatis tanpa listrik PLN,” jelasnya.
Karya siswa ini terbukti bukan sekadar proyek teknologi, tetapi juga pendidikan karakter: melatih kepedulian lingkungan, kreativitas, sekaligus efisiensi.
“Alat ini meminimalkan penggunaan energi fosil, sekaligus mengurangi beban kerja manual,” tambah Heru.
Cap Batik dari Limbah: Jawaban Kreatif untuk Generasi Z
Selain itu, SMPN 2 Lasem juga memperkenalkan teknologi cap batik dari karton dan triplek bekas. Terobosan ini berangkat dari masalah klasik: menurunnya minat siswa membatik dengan canting.
“Banyak yang merasa proses canting terlalu rumit. Maka, kami bikin cap sederhana agar batik bisa dibuat cepat, namun tetap mempertahankan nilai budaya,” terang Heru.
Dengan cap batik ramah lingkungan ini, siswa bisa berkreasi lebih cepat, mengurangi rasa jenuh, sekaligus belajar memanfaatkan limbah.
“Kami ingin batik tidak hanya diajarkan, tapi dicintai generasi muda dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya.
Dari Adiwiyata Provinsi Menuju Nasional hingga ASEAN
Kepala SMPN 2 Lasem, Chrismastuti, menegaskan penghargaan Adiwiyata bukan sekadar label.
“Kami ingin siswa tidak hanya mencintai lingkungan di sekolah, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Sekolah ini menargetkan langkah lebih tinggi: Adiwiyata Nasional, Mandiri, bahkan ASEAN.
“Inovasi akan terus kami dorong. Adiwiyata bagi kami adalah budaya hidup, bukan sekadar penghargaan,” tegasnya.
Langkah Inspiratif untuk 23 Sekolah Lain di Rembang
Selain SMPN 2 Lasem, ada 23 sekolah lain di Rembang yang juga meraih predikat Adiwiyata Provinsi 2025.
Kesemuanya menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis lingkungan kini semakin relevan di tengah isu krisis iklim dan degradasi lingkungan.
Program ini diharapkan melahirkan generasi muda yang bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berdaya dalam menjaga bumi.
“Kalau siswa sudah terbiasa dari sekolah, mereka akan terbawa sampai di rumah dan masyarakat. Itulah target sesungguhnya dari Adiwiyata,” tutup Chrismastuti.(noe/ade)
Editor : Alfian Dani