REMBANG, RADARPATI.ID – Sebuah kisah inspiratif datang dari pasangan suami istri, Sumarno (64) dan Sukarti (62), warga Desa Pasedan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.
Setelah menunggu lebih dari 13 tahun, mereka akhirnya dapat menunaikan ibadah haji di tanah suci pada pertengahan Mei 2025.
Keberhasilan ini diraih berkat perjuangan keras mereka, yang dimulai dari usaha jualan pentol baso keliling kampung.
Sumber rejeki utama pasangan ini adalah usaha kecil mereka yang mengandalkan sepeda motor dan sepeda onthel.
Sumarno, yang biasa mengendarai sepeda motor Revo, dan Sukarti, yang lebih memilih sepeda onthel, berkeliling dari kampung ke kampung untuk menjajakan pentol baso.
Mereka masing-masing membawa gerobak berwarna orange berisi dagangan.
Meski sudah berusia lanjut, semangat dan tenaga keduanya tetap terjaga. Mereka terbiasa menempuh perjalanan jauh dengan menanjak melewati perbukitan, yang menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari mereka.
"Kerja keras kami tidak menghianati hasil. Pada tahun 1995, saya dan istri belum punya apa-apa. Istri saya bekerja serabutan, mulai dari mencari kayu hingga membantu petani saat musim tanam. Saya pun sempat sakit selama dua tahun. Ibu e (istrinya) kelelahan sendiri. Tapi kami selalu berdoa dan bernazar, jika suatu saat diberi rezeki, ingin menunaikan ibadah haji bersama," kenang Sumarno sambil menirukan nadzar yang diucapkan oleh istrinya.
Pada tahun 1997, keduanya memutuskan untuk membuka usaha jualan pentol baso.
Keberhasilan mereka tidak datang dengan mudah, tetapi sedikit demi sedikit, mereka berhasil mengumpulkan tabungan meski nominalnya kecil.
Uang yang mereka sisihkan setiap hari, mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 30 ribu, akhirnya membuahkan hasil.
Dari awalnya hanya mampu membuat 3 kilogram pentol, mereka kini bisa memproduksi hingga 25-30 kilogram sehari.
Bahkan, penjualan mereka melonjak drastis selama bulan Ramadan, meskipun mereka harus berkeliling ke banyak desa seperti Pasedan, Krikilan, dan Sumber.
Usaha yang semakin berkembang membuat ekonomi pasangan ini semakin stabil.
Pada tahun 2012, Sukarti mengungkapkan keinginannya untuk pergi haji bersama suami. Niat itu akhirnya diwujudkan dengan mendaftar haji pada 12 tahun yang lalu.
Sumarno dan Sukarti selalu berdoa, mengamalkan salawat, dan bersedekah, berharap perjalanan mereka ke tanah suci akan menjadi ibadah yang mabrur dan membanggakan desa mereka.
"Semua yang kami miliki adalah berkah dari Allah. Saya selalu berdoa dan berusaha menjaga fisik agar sehat untuk menunaikan ibadah haji dengan lancar. Semoga nanti kami dapat menjadi haji mabrur dan membawa kebanggaan bagi desa Pasedan," ujar Sumarno.
Pada tanggal 17 Mei 2025, pasangan ini akan berangkat ke tanah suci bersama rombongan kloter 55, yang akan diberangkatkan dari embarkasi Solo.
Koper dan perlengkapan haji mereka telah siap, dan keberangkatan mereka menjadi puncak dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan dan doa.
Kepala Kantor Kemenag Rembang, Moh. Mukson, melaporkan bahwa jumlah jamaah calon haji dari Kabupaten Rembang mencapai 846 orang, terdiri dari 838 jamaah reguler dan 8 petugas haji daerah.
Jamaah akan terbagi dalam beberapa kloter, termasuk kloter 55 yang terdiri dari jamaah asal Kabupaten Rembang.
Kloter 55 dijadwalkan masuk asrama Donohudan pada tanggal 17 Mei 2025 pukul 18.00 WIB, disusul kloter 56 pada 18 Mei pukul 06.00 pagi, dan kloter 57 pada 18 Mei pukul 09.00 pagi.
Dengan perjuangan yang luar biasa, pasangan Sumarno dan Sukarti membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan doa yang tulus, segala sesuatu bisa tercapai, termasuk impian untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. (noe/amr)
Editor : Syaiful Amri