KOTA, RADARPATI.ID – Mengemban ilmu tidak ada batasnya. Potret ini menggambarkan sekolah lansia di Kota Garam.
Hadirnya sekolah ini sebagai bentuk terwujudnya lansia yang SMART (sehat, mandiri, aktif, produktif dan bermartabat).
Sekolah ini ada sejak dua tahun silam.
Sekolah itu merupakan program BKKBN.
Materinya tujuh dimensi lansia tangguh dan materi perawatan jangka panjang.
Dimensi lansia tangguh meliputi spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial kemasyarakatan, profesional dan vokasional dan lingkungan.
Dimana metode pembelajaranya bermain.
Dilengkapi dengan senam dan materi kerohanian dan ketrampilan, agar lansia bisa mandiri secara ekonomi.
Seperti sekolah umumnya para lulusanya di wisuda. Dengan gelar ada S1, S2 dan S3. S1 artinya mandiri untuk dirinya sendiri, S2 lansia berguna untuk keluarga.
Selanjutnya, S3 lansia masih bisa berguna masyarakat.
Untuk tingkatkan kualitas hidup, puluhan lansia di Kabupaten Rembang mengikuti program Sekolah Lansia.
Baca Juga: Pemuda Asal Jepara Ini Masuk Tiga Besar Duta Wisata Tingkat Provinsi
Diadakan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kabupaten Rembang.
Endang Hersus Dadikawati, Kabid Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Dinsos PPKB Rembang, menjelaskan bahwa tujuan sekolah ini adalah membantu lansia dalam meningkatkan keterampilan di bidang kesehatan, sosial, finansial, dan teknologi.
"Dengan jumlah penduduk lansia yang semakin banyak, diharapkan mereka tidak menjadi beban negara. Oleh karena itu, sekolah lansia dibentuk agar mereka menjadi lansia yang tangguh, sehat, aktif, mandiri, dan produktif," ujarnya.
Pembelajaran di sekolah lansia ini mencakup tujuh dimensi lansia, gizi, hingga materi spiritual.
Peserta juga diajak untuk hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi dan rutin berolahraga.
"Sekolahnya tidak seperti sekolah pada umumnya karena pesertanya sudah tua-tua jadi hanya beberapa jam,” imbuhnya.
Program ini telah dilaksanakan di beberapa kecamatan, termasuk Kecamatan Bulu, Gunem, serta Desa Mondoteko dan Sumberjo di Kecamatan Rembang.
Setiap kelas terdiri dari 25 peserta, dengan durasi pembelajaran maksimal 2 jam.
”Meskipun kami memberikan pelajaran, juga ada ice breaking agar mereka merasa senang, nyaman, bahagia, dan mudah mengingat materi,” ungkap Endang.
Peserta sekolah lansia ini terdiri dari pra lansia (usia 50-60 tahun) dan lansia (di atas 60 tahun).
Melalui program ini, diharapkan para lansia bisa tetap aktif dan tidak hanya berdiam diri di rumah tanpa aktivitas.
”Biar lansia-lansia kita tetap menjadi lansia yang sehat, aktif, produktif, dan mandiri, sehingga tidak menjadi beban keluarga, masyarakat, dan negara,” pungkasnya. (noe)
Editor : Abdul Rochim