KOTA, RADARPATI.ID – Tradisi Bende Becak dan Batik Tulis Lasem resmi teregister sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
Ketetapan ini merupakan perdana bagi Rembang.
Dua kebudayaan asli Lasem ini telah ditetapkan sebagai WBTB pada 22 Agustus lalu.
Tradisi Bende Becak merupakan kegiatan rutin setiap tanggal 10 Dzulhijjah di Desa Bonang.
Bende Becak merupakan gong kecil yang dipercaya sebagai peninggalan Sunan Bonang.
Setiap tanggal 10 Dzulhijjah masyarakat setempat melakukan jamasan.
Sub Koordinator (Subkor) Sejarah Museum dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang Retna Diah Radityawati menyampaikan, baru-baru ini pihaknya sudah mengikuti sidang penetapan WBTB oleh Kemendikbud Ristek di Jakarta.
”Jadi seluruh penetapan itu per provinsi. Kemarin provinsi lolos 30 WBTB. Kabupaten Rembang ada dua yang diajukan, Batik Lasem dan Penjamasan Bende Becak Pusaka Sunan Bonang,” jelasnya.
Agar bisa ditetapkan sebagai WBTB, Retna menjelaskan, harus melalui kajian akademis.
Bende Becak sendiri telah dikaji Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) pada 2021.
Sehingga dinilai memenuhi persyaratan.
Baca Juga: Jalan Ambles di Juwana Pati, Ini Penyebabnya! Perbaikan Butuh 45 Hari
”Ini pertama kalinya (ditetapkan sebagai WBTB) , pecah telor. Sebelumnya belum pernah ada (yang ditetapkan sebagai WBTB,Red),” jelasnya.
Tahun depan Dinbudpar berencana mengajukan kesenian Patol dan Laesan agar bisa teregister sebagai warisan budaya tak benda.
”Ini yang sudah punya kajiannya. Nanti kami komunikasi dengan pelaku budayanya,” jelasnya.
Sementara, untuk Batik Lasem kajian dipaparkan oleh Yayasan Lasem Heritage.
Agni Malagina, salah satu pegiat di Yayasan Lasem Heritage mengatakan, kajian tentang Batik Tulis Lasem telah dilakukan sejak 2017.
Setiap tahun terus dilakukan pembaharuan.
Sehingga selain mendapatkan penetapan sebagai WBTB, beberapa waktu lalu Batik Tulis Lasem juga telah ditetapkan sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB).
”Kajian Batik Tulis Lasem yang dimulai sejak 2017. Di-update terus sampai tahun ini. Makannya juga bisa dipakai untuk Memori Kolektif Bangsa,” jelasnya. (vah/ali)
Editor : Abdul Rochim