REMBANG, RADARPATI.ID - Tradisi penjamasan Bende Becak di Desa Bonang kembali digelar kemarin.
Warga dari berbagai daerah memadati lokasi untuk menghadiri tradisi yang digelar setiap Hari Raya Idul Adha ini.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat tradisi penjamasan bende becak ini digelar, Desa Bonang ramai didatangi warga.
Tidak hanya dari Rembang saja, pengunjung jika ada yang berasal dari luar kota. Seperti Semarang, Jakarta, bahkan luar Jawa.
Bende becak sendiri merupakan gong kecil yang dipercaya sebagai peninggalan Sunan Bonang. Penjamasan dilaksanakan di kediaman juru kunci Sunan Bonang.
Acara penjamasan dilaksanakan sekitar pukul 08.00 kemarin. Tradisi tersebut juga diisi dengan pembacaan doa dan tausiyah.
Setelah itu air jamasan dibagi-bagikan kepada warga yang hadir. Tidak hanya air, warga ada yang mendapatkan potongan bambu, potongan kain putih, dan ketan kuning.
Samsuri, salah satu perangkat desa setempat menyampaikan, dalam tradisi Penjamasan bende becak memang disediakan ada ketan kuning beserta suladan.
Suladan sendiri merupakan alas untuk meletakkan ketan kuning yang terbuat dari bambu.
"Yang diperebutkan tadi juga ketan kuning dan suladannnya itu," jelasnya.
Sementara untuk kain putih, merupakan kain pembungkus dari bende becak. Ia menjelaskan, kain pembungkus tersebut selalu berganti setiap tahunnya.
Yang dibagikan kepada warga kemarin, merupakan kain pembungkus tahun lalu.
Setelah dijamas, bende becak kembali dibungkus menggunakan kain putih, yang nantinya juga akan dibagikan kepada warga pada tradisi penjamasan tahun mendatang.
"(Kain pembungkus) yang tahun ini besok dibagikan waktu penjamasan selanjutnya," jelasnya.
Ia mengatakan, warga Desa Bonang memaknai tradisi ini sebagai hal yang sakral, sehingga dilaksanakan setiap tahunnya.
Warga juga berharap bisa ngalap berkah dari tradisi ini.
"Memang ini sudah tradisi, dianggap sakral, karena bende becak adalah peninggalan dari Mbah Sunan Bonang," ungkapnya.
"Setiap tahun tanggal 10 Besar. Jadi kegiatan ini rutin setiap tahun diadakan untuk penjamasan," imbuhnya. (vah/ali)
Editor : Achmad Ulil Albab