REMBANG, RADARPATI.ID – Hibah bantuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal untuk para pengusaha batik tulis lasem belum bisa difungsikan.
Ini lantaran mereka belum dibekali pelatihan cara pengoperasian bantuan olah pelaksana proyek.
Bantuan pusat ini digulirkan tahun 2023 lalu, dengan bantuan ini harapannya limbah perajin batik bisa diolah dulu sebelum dibuang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di Kabupaten Rembang Ika Himawan Affandi mengaku telah disambati soal belum difungsikannya penggunaan IPAL komunal tersebut.
Hal itu karena penerima manfaat belum bisa menggunakannya karena belum ada pelatihan teknis.
”Kontraktornya katanya belum kesana lagi. Jadi belum berani memanfaatkannya.” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Apalagi, menurut informasi yang pihaknya terima, IPAL tersebut membutuhkan daya listrik 2.000 watt, agar bisa difungsikan.
“Di sini pengusaha masih bingung. Ketika sudah dipasang khawatir tidak bisa. Sehingga memutuskan menunggu kontraktor terlebih dulu,” terangnya.
Dari hasil pengecekan di lapangan, Ika mengaku telah melayangkan surat ke kementerian terkait untuk kelanjutan dari proyek tersebut. “Kami masih menunggu balasannya,” terangnya.
Menurut Ika fungsi dari IPAL yang ditempatkan di bibir kali Babagan, Lasem, itu harapannya agar limbah batik tak mencemari lingkungan sekitar.
Khususnya sungai terdekat. ”Jadi sebelum dibuang. Limbah diolah dulu,” tandasnya.
Salah satu pengusaha batik Lasem, Santoso membenarkan jika tim DLH Rembang telah mengecek lokasi IPAL.
Ia pun mengakui belum berani memanfaatkan bantuan hibah itu sebelum menerima pelatihan teknis.
Pihaknya bersama sejumlah pengusaha batik dan pemerintah desa berinisiatif akan melakukan studi banding ke tempat yang telah memiliki IPAL komunal.
“Bulan depan ke Sritex untuk menimba ilmu. Kami rencana membawa 15 peserta dari para kepala desa, DLH, dan UKM. Ini supaya mendapat pengalaman bersama-sama,” ujarnya.
Karena saat ini IPAL belum difungsikan. Santoso mengaku sementara masih memanfaatkan pengolahan limbah mandiri.
”Sementara seperti saya beberapa puluhan tahun lalu masih menggunakan kolam, pasir, dan bata,” imbuhnya. (noe/ali)
Editor : Abdul Rochim